F. Rohmah, S.Pd.: Selamatkan Wanita Pejuang Devisa


F. Rohmah, S.Pd
ZONALABOUR.COM, JAKARTA - “Kerjo ancen soro, tapi luweh soro yen ora iso kerjo”. “Asal asap dapur tetap mengepul, opo-opo lah”, “juraganku eidan tenan, nggleput bayaran sak jumput”, “Bayaran to ra??” “ Tanggal tuwek dompete garing”, “enak sing nampani, sing golek ajiur jum...”Stiker semacam itu sering kita dapati di kaca-kaca angkot, di pantat dump truk ataupun stiker yang nempel di motor. Mungkin ada benarnya coretan hati pembuat dan penempel stiker sehingga dengan nyaman sengaja dipampang ditempat yang mudah terbaca mata meski sekilas. Dalam realita kehidupan sering kita dengar keluhan dari anak buah atas kebijakan yang diambil atasannya, pun sebaliknya atasan mengeluhkan kinerja asistennya. Bertubi-tubi kisah tragis pembantu atas tindakan kekerasan tidak manusiawi majikannya, bertebaran juga kisah bangkrutnya majikan karena ulah jongosnya.


Pahlawan Devisa

Kisah kelu para pejuang devisa pun tak kalah hebohnya. Mereka berjuang mengisi pundi kas negara dengan mengundi nasib di negeri orang, meninggalkan bahkan mengorbankan kebahagiaan keluarga namun disono bukan kemakmuran yang diperoleh malah sebaliknya. Tiang gantungan mengincarnya. Ratapan dan tangisan buah hati tak mampu menghilangkan ancaman hukuman yang telah diketok palu hakim. Kejadian seperti itupun tidak menyurutkan langkah para TKW periode berikutnya untuk berpikir ulang ketika mau bekerja ke luar negeri. Tekad sudah bulat, merantau ke negeri orang dengan berharap meningkatkan kesejahteraan keluarga tetap jadi pilihan banyak pekerja Indonesia. Menjamurnya lembaga-lembaga penyalur tenaga kerja ke luar negeri dengan iming-iming bayaran yang aduhai turut menjadi motivator hebat untuk tetap berangkat. Sulitnya mencari pekerjaan yang mencukupi kebutuhan hidup keluarga juga telah mengetuk nurani para bapak bahkan mayoritas para ibu ataupun remaja putri untuk membulatkan tekad. Resiko tidak difikirkan, nyawa tidak lagi jadi pertimbangan, rusaknya generasi akibat terbengkalai ditinggal orang tua juga tidak menyurutkan langkah.

Kenaikan harga yang kian melambung tinggi, bea pendidikan yang tak terjangkau, pelayanan kesehatan yang nominalnya kian mencekik membuat para pekerja pribumi geram. Kalo dulu cukup bapak yang turun tangan cari makan kini para ibu pun terpaksa menyingsingkan lengan baju menceburkan diri membantu para suami demi bisa bertahan hidup. Agar bisa melihat senyum anak ketika berangkat sekolah. Apapun yang bisa dikerjakan bisa dijadikan pilihan. Kerja mandiri maupun ikut juragan. Masalahnya, ini juga menyangkut mental. Masyarakat marginal banyak yang bermental instan. Ingin cepat kaya mendadak, saking lelahnya dengan kemiskinan. Menjadi TKI, dengan waktu kontrak 2-3 tahun, dirasa cukup cepat menghasilkan uang. Buktinya, tetangga sebelah pulang-pulang bisa merenovasi rumah. Inilah iming-iming dunia yang menggiuarkan. Mental buruknya lagi, peran mengeruk uang instan itu dibebankan pada anak-anak perempuan. Remaja-remaja tanggung atau ibu-ibu paruh baya yang dijadikan tumbal. Walhasil, di sebagian masyarakat, punya anak-anak perempuan adalah aset. Tak perlu pendidikan tinggi, cukup bermodal ijazah SMP sudah dikirim ke luar negeri.

Demikian pula bagi suami-suami yang jobless di dalam negeri. Istri tega disuruh merantau cari duit sendiri. Sebab, kerja di kampung sama sekali tidak menarik. Sekadar jadi buruh tani, berjualan atau tukang cuci, mana ada duitnya? Habis buat belanja keseharian saja. Nggak mungkin bisa kaya.

Kisah tragis Adelina (21) TKW asal NTT yang ramai dibicarakan. Sehari sebelum meninggal, wanita asal NTT ini duduk di teras dengan wajah ketakutan, Sabtu (10/2/18). Tetangga mengklaim, Adelina dipaksa tidur dengan anjing di teras, lebih dari sebulan sebelum penyelamatan. Sayangnya, penyelamatan itu tak mampu menyelamatkan nyawanya (tribunnews). Ya masalah ekonomi, pendidikan, budaya, mental, dll. Adelina bukanlah pertama. Tapi, pasti bukan pula yang terakhir. Bukan pula satu-satunya. Sudah berulang ribuan kali tragedi seperti ini. TKW disiksa majikan. Dianiaya, bahkan hingga nyawa melayang. Selama politik ekspor TKW berpendidikan rendah masih berjalan, ekspor tenaga kerja kasar berlanjut, kasus seperti itu masih terulang. Lagi-lagi hanya tangan Negara yang mampu mengurus hal ini.


Idealisme Pekerja

Menjadi seorang pekerja, baik itu buruh pabrik, tukang kuli bangunan, pembantu rumah tangga, karyawan toko, pedagang dan pekerjaan-pekerjaan semisalnya bukanlah perkara yang terhina dalam pandangan Allah SWT. Islam justru menganggap bahwa pekerjaan-perkerjaan tersebut merupakan di antara usaha yang baik, usaha yang mulia. Rasulullah SAW menyatakan dalam sebuah haditsnya: "“Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang pria dengan tangannya ” (HR. Ahmad). Bahkan dalam riwayat yang lain Rasululullah SAW menyatakan:“Tidaklah seseorang mengonsumsi makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan dari jerih payah tangannya sendiri" (HR.Bukhori). Lebih dari itu, bekerja merupakan di antara jenis akad yang telah diatur secara terperinci dalam Islam. Baik dari sisi hukum-hukumnya (ahkâmul ijâroh), ataupun dari sisi adab bagaimana memperlakukan para pekerja dengan baik (al-ihsan ilal ajîr). Menjadi pekerja yang faham Islam akan memberikan ketenangan kepada majikannya, karena jika pemikiran Islam sudah melekat dan terpatri dalam kalbu, majikan sesungguhnya dari para pekerja itu adalah Allah Swt, kejujuran dan kesungguhannya dalam bekerja semata-mata mengharap ridho Allah. Gaji atau upah hanyalah hak duniawi karena kewajiban telah tertunaikan.



Idealisme majikan

Rasulullah SAW dan para sahabat adalah sebaik-baiknya contoh bagaimana mereka memperlakukan para pekerja termasuk para pembantunya. Anas Ibnu Malik salah seorang pembantu Rasulullah SAW menceritakan: "Aku menjadi pembantu (khadim) Rasulullah SAW selama sepuluh tahun, demi Allah Rasulullah SAW tak pernah sekalipun mengatakan kepadaku kata "ah" (uff), dan tak pernah beliau mengatakan: "kenapa kamu lakukan ini, dan kenapa tidak lakukan itu" (HR. Muslim). Rasulullah SAW sendiri sangat memuliakan tangan-tangan kasar para pekerja. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Rasulullah SAW bertemu dengan salah seorang sahabatnya. Ketika beliau menyalaminya, beliau mendapati tangannya sangat kasar, lalu beliau bertanya: "apa yang membuat tanganmu bengkak-bengkak dan kasar seperti ini..?" Sahabat itu menjawab: "karena aku bekerja wahai rasulullah". Kemudian beliau mengangkat kedua telapak tangan orang tersebut di hadapan para sahabat lainnya, lalu beliau mencium keduanya, serta mengibarkannya seperti bendera, kemudian dengan bangga Rasulullah memujinya: "kedua telapak tangan ini sangat dicintai Allah dan Rasulnya"..

Beliau pun pernah mendapati kedua telapak tangan Sa’ad pecah-pecah, lalu beliau bertanya akan penyebabnya. Sa'ad menjawab: "Itu karena aku sering pegang tali dan skop, agar aku dapat memberi nafkah bagi keluargaku". Mendengar itu Rasulullah pun lekas menciumnya lalu berkata: " Kedua telapak tangan ini amat dicintai Allah SWT". Allah SWT berfirman: "Maka ketika mereka telah melewati (tempat itu), Musa berkata kepada pembantunya: "Bawalah ke mari makanan kita, sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini" (QS. al-Kahfi: 62). Dalam percakapan tersebut, tampak bahwa Nabi Musa AS tidaklah memosisikan dirinya lebih tinggi dibanding pembantunya, meski beliau adalah seorang nabi yang berbicara dengan seorang pembantu. Kesabaran para majikan yang faham Islam pasti berlipat karena mereka memahami yang membedakan posisi mulia ataukah terhina dalam pandangan Allah hanyalah ketakwaan, bukan yang lainnya. Inilah salah satu sisi gambaran hubungan antara ajîr (pekerja) dan mustajîr (majikan) yang seharusnya diwujudkan.

Namun sayang, cermin seperti ini tidak lagi dijadikan sebagai panduan dalam kehidupan kapitalis meski mereka mengusung kebebasan dan HAM.. Justru kebebasan itulah yang mendorong orang berlaku tidak adil, zalim, bertindak sewenang-wenang terhadap para pekerjanya, bahkan memperbudak mereka sebagaimana kita saksikan saat ini. Faktor komunikasi antara majikan-buruh yang berbeda bahasa keseharian seringkali memicu tindak kekerasan terjadi. Andaikan pemerintah benar-benar ingin mempahlawankan para tenaga yang dikirim ke luar negeri mestinya pendidikanlah faktor utama yang mesti ditingkatkan kualitasnya agar tidak ada miskomunikasi dengan majikannya. Majikan merasa telah membayar mahal mereka, namun para pembantu ini sering tidak memahami perintah majikannya. Dengan berbekal keahlian bahasa, kemampuan ketrampilan yang memadai mereka bisa bangga ke luar negeri dengan keahlian di otaknya. Bukan terpaksa berangkat bermodal fisik kedua tangannya.

Lebih dari itu, dengan modal pendidikan, masyarakat akan termotivasi dengan kerja-kerja kreatif di negeri sendiri. Lebih-lebih kaum lelaki yang diserahi nafkah di pundaknya. Di era teknologi informasi, banyak sekali sektor yang bisa dijadikan ladang uang. Mental babu, mental terjajah harus segera direvolusi jadi tipe leader dan problem solver. Agar masyarakat bisa menjalankan hidup optimal sesuai peran masing-masing.[]

Tidak ada komentar