Hasni Tagili, M. Pd: Menyoal Beasiswa Tenaga Kerja Lokal


Hasni Tagili, M. Pd





RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Sebanyak 28 tenaga kerja lokal PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI), Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara (Sultra), kembali diberangkatkan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan selama satu tahun di Yancheng Technology Institute (YTI) Tiongkok (Sultrakini.com, 10/09/2018).

Sebelumnya, pada bulan Mei 2018 lalu, PT VDNI juga telah memberangkatkan 46 orang putra-putri daerah Sultra ke RRT untuk belajar mengenai ilmu peleburan logam di Yunnan Kunming Metalurgical College.

Selama berada di Tiongkok, para tenaga kerja ini akan mengikuti pendidikan dan pelatihan dibidang pembangkit listrik. Selama menempuh pendidikan di negeri gingseng itu, biaya sepenuhnya ditanggung oleh pihak perusahaan.

Human Resources Development (HRD) Manager, PT VDNI, Arys Nirwana, mengatakan pengiriman putra dan putri daerah untuk belajar ke RRT (Republik Rakyat Tiongkok) ini juga menjadi bagian dari program alih teknologi kepada tenaga kerja Indonesia.

Arys, menjelaskan bahwa pengiriman putra-putri daerah Sultra ke Tiongkok untuk belajar, menjadi salah satu wujud kepedulian PT VDNI untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal dan kemudian dapat menjadi bagian yang turut membangun Sultra.

Social Effect
Pengiriman tenaga kerja lokal ke luar negeri untuk mempelajari teknologi tertentu sudah sering terjadi. Bukan hanya status karyawan, mahasiswa pun lekat dengan aktivitas ini. Sebagaimana diberitakan bahwa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Kementerian Keuangan (LPDP Kemenkeu) menyiapkan beasiswa S2 dan S3 sebanyak 4.000 penerima di tahun 2018 ini.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Nufransa Wira Sakti membenarkan hal tersebut. Adapun rinciannya, 65 persen untuk dalam negeri dan 35 persen beasiswa luar negeri. Itu artinya, untuk beasiswa LPDP luar negeri, jatahnya untuk 1.400 penerima. Sedangkan beasiswa dalam negeri sebanyak 2.600 penerima (Liputan6.com, 03/05/2018).

Lebih lanjut, data LPDP pada posisi Januari 2017, total penerima beasiswa LPDP mencapai 16.293 penerima, rinciannya 8.404 penerima beasiswa kuliah di perguruan tinggi dalam negeri dan 7.889 penerima di luar negeri.

Dari jumlah itu, memang akan didapatkan peningkatan kualitas SDM. Pengiriman tenaga kerja lokal ke luar negeri pun dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sepulangnya mereka ke tanah air. Namun, pernahkah dibayangkan efek sosial yang akan dihasilkan?

Jika dipetakan, sesungguhnya pengiriman karyawan lokal ke luar negeri ini sarat akan modus pelanggengan kerjasama. Itulah salah satu sebab negara kita sulit melepaskan diri dari kerjasama asing. Benar, akan ada peningkatan pendapatan dari sisi ekonomi, tapi jika dilihat dari aspek sosiologinya, daerah justru akan menanggung beban sosial yang lebih banyak.

Belum lagi, dengan adanya kerja sama asing ini, eksistensi pemerintah daerah berpotensi menjadi dipertanyakan. Ketika perusahaan asing mengklaim diri memiliki komitmen dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tenggara, di mana peran pemda? Mengapa kesejahteraan rakyatnya harus ditopang asing?

Islam Memandang
Menyoal menerima beasiswa dari nonmuslim, hukumnya mubah (boleh). “Telah diterangkan dalam hadits tentang diperbolehkannya menerima hadiah dari orang kafir dan memberikan kepadanya. Raja kaisar pernah memberikan hadiah pada Rasulullah dan beliau menerimanya. Kemudian sebelumnya Raja Kaisar juga pernah memberi hadiah kepada Nabi dan beliau menerimanya. Begitu juga raja lain banyak yang memberikan hadiah kepada beliau dan beliau juga menerimanya” (Lihat Ihkamul al-ahkam 4/238).

Dalam hal ilmu teknologi, kemaslahatannya jelas besar. Sehingga tidak mengapa jika kaum muslim mempelajarinya dan mengambil faedah dari ilmu nonmuslim. Hal ini bukan termasuk tasyabbuh (meniru orang kafir yang tercela). Akan tetapi, hal ini termasuk dalam melakukan hal yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat.
 
Namun, kebolehan ini disertai beberapa catatan. Bepergiannya seseorang ke negeri mayoritas nonmuslim untuk belajar tersebut dalam rangka mendalami ilmu-ilmu umum, bukan ilmu agama. Ilmu umum yang memang tidak memungkinkan untuk menimbanya di negeri muslim, seperti ilmu kedokteran, teknologi, keinsinyuran atau semisalnya.

Begitupula, karena tidak bisa mendatangkan para pakar dalam bidangnya yang dapat dipercaya ke negara muslim dalam rangka mengajar kaum muslimin, padahal ilmu itu sangat dibutuhkan oleh kaum muslimin. Maka diperbolehkan untuk bepergian ke negeri nonmuslim dalam rangka menutut ilmu dengan syarat; bisa membentengi diri dan agamanya dengan tsaqafah islamiyah sehingga tidak terkena fitnah selama berada di negeri nonmuslim tersebut. Bagi yang belum bisa menjaga diri dari fitnah, tidak diperbolehkan pergi ke negeri nonmuslim.

Dari Qais bin Abi Hazim, dari Jarir bin Abdullah sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Saya berlepas diri dari seorang muslim yang tinggal bersama-sama dengan orang-orang musyrik.” Mereka bertanya, “Kenapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak boleh saling terlihat api keduanya (makruhnya tinggal di antara orang-orang musyrik.” (HR. Abu Dawud).

Bagaimana mungkin seorang muslim akan merasa tenang hidup dan bertempat tinggal di negeri nonmuslim yang secara terang-terangan mengumandangkan syiar kekufuran? Belum lagi, mereka berhukum dengan sesuatu yang memusuhi hukum Allah dan Rasul-Nya.

Ketika hal tersebut dlihat dan didengar oleh seorang muslim dengan perasaan rela, maka sesungguhnya agama dan akhlaknya sedang berada dalam posisi terancam. Efek sosial mulai mewabah dalam jiwanya. Disebabkan filter akidah yang tidak kuat. Itulah mengapa, sebelum berguru ilmu-ilmu umum ke negeri nonmuslim, seorang muslim seyogyanya membentengi diri dengan ilmu agama yang mumpuni. Wallahu a'lam bisshawab.[]

Penulis adalah seorang dosen

Tidak ada komentar