Yulida Hasanah: Potret Miris Gen-Z, Tanggung Jawab Siapa?


Yulida Hasanah, Penulis
 
ZONALABOUR.COM - JAKARTA - Miris, generasi Z atau yg lebih dikenal dengan sebutan gen-Z jaman sekarang ternyata tidaklah lebih baik dengan generasi sebelum mereka. Khususnya ketika berbicara tentang kondisi pergaulan bebas yang akrab dengan gaya hidup remaja saat ini. Betapa tidak ! temuan 12 siswi di Lampung dinyatakan hamil menurut temuan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Lampung . Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Daerah Kabupaten Bekasi mendapatkan temuan terkait pornografi (video porno) dan chat mesum melalui grup whatsapp (WA) pelajar di salah satu sekolah menengah pertama di Cikarang Selatan. Tidak hanya itu, potret kegelapan generasi akibat maraknya LGBT juga terus menghantui masyarakat Garut dengan temuan grup Facebook yang diduga kelompok gay beranggotakan pelajar SMP dan SMA . bahkan yang lebih miris lagi, anggota grup gay tersebut berjumlah lebih dari 2.500 orang yang berdomisili di sekitar Garut, Bogor, Bandung dan sampai dari kota di luar Jawa barat.

Tentu masalah ini tidak muncul tiba-tiba, dan bukan berarti pemerintah tidak menindak para pelajar pelaku amoral tersebut. Hanya saja, kemunculan problem generasi akhir jaman sekarang (Gen Z) ini tidak terlepas dari gaya hidup liberal /serba bebas yang merupakan buah dari salah satu pilar demokrasi yaitu ‘kebebasan berekspresi’. Maka, seharusnya arus kebebasan ini tidak boleh dipertahankan di negeri yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral di tengah masyarakat ini. Dan begitu jelas bahwa sistem demokrasinya sendiri memang bukan berasal dari Dzat Yang Maha Pencipta dan Pengatur manusia. Demokrasi menjadikan hak penuh membuat dan menetapkan aturan pada manusia. Selain itu, sistem ini lahir dari pemikiran manusia sebagai ‘win-win solution’ atas persolan yang terjadi. Adapun liberalisme yang menjadi pilar demokrasi telah menjamin kebebasan atas langgengnya aturan buatan manusia tersebut.

Secara logis, wajar jika masalah pornografi, pornoaksi, seks bebas dan maraknya LGBT di negeri ini tak kunjung tuntas. Selama aturan yang diberlakukan di negeri ini tetap bernafaskan liberalisme, jangan harap negara, lingkungan dan keluarga mampu bertanggungjawab untuk menyelesaikannya.

Meskipun demikian, pesimis dalam menyikapi masalah yang menimpa generasi kita bukanlah sikap yang tepat untuk kita ambil. Hanya saja, ketika kita meyakini bahwa ‘tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya’. Di sinilah kita diajak untuk melirik pada obat yang telah diturunkan oleh Pencipta dan Pengatur manusia yaitu Allah SWT.

Allah SWT telah menjadi Islam sebagai agama yang sempurna, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari aspek individual (aqidah, ibadah, akhlaq, makanan, minuman dan pakaian) sampai aspek sosial (politik, ekonomi, pergaulan, kesehatan, pendidikan, dan hukum). dan tentunya, Islam sempurna ini tidak dapat terwujud kecuali diterapkan oleh sebuah negara.

Dalam Islam, negara merupakan pilar penting bagi tegaknya sistem Islam. Hanya saja, negara bukanlah satu-satunya pilar penentu yang menjamin penerapan sistem Islam. Akan tetapi harus ditopang oleh terwujudnya ketaqwaan pada individu-individu masyarakat dan adanya kontrol yang kuat dari masyarakat.

Individu yang bertaqwa akan terwujud apabila keyakinan kepada Allah (keimanan) telah ada dalam dirinya. Untuk membentuk keimanan yang kuat, butuh adanya pembinaan yang intens terkait pemahaman-pemahaman tentang Islam yang sempurna.

Lalu, keluarga juga berperan sebagai basis pertahanan umat Islam yang melahirkan generasi yang sholih/sholihah. Oleh karena itu, Islam telah menetapkan bahwa orang tua memiliki peranan besar dalam mendidik dan mengarahkan anak-anaknya.

Di samping pilar negara, individu dan keluarga, maka masyarakat juga memiliki peran strategis dalam mengontrol perilaku anggota masyarakat lainnya, termasuk mengontrol setiap kebijakan yang dibuat oleh penguasa. Dan perlu diingat, bahwa kontrol masyarakat ini tidak dipandang sebagai tindakan oposisi, namun peran ini sebagai wujud kepedulian terhadap kondisi yang menimpa masyarakat dan juga tanggungjawab yang harus ditunaikan.

Terakhir, peran Ulama, tokoh masyarakat dan komponen lainnya yang ada di masyarakat hendaklah bersama-sama bersinergi dalam mengontrol setiap kerusakan yang terjadi, termasuk yang menimpa generasi. Tentu saja, upaya ini tidak akan sia-sia jika solusi yang disuarakan ‘sama’, yaitu ‘solusi Islam sempurna’ untuk menyelematkan generasi dan masa depan negeri ini. Wallaahu a’lam

Penulis adalah Pemerhati Sosial

Tidak ada komentar