Rosmita: Muslim Uighur Menangis Di Bawah Rezim Komunis


Rosmita

ZONALABOUR.COM, JAKARTA - Belum hilang derita saudara-saudara kita di Palestina, Syuriah, Yaman, Myanmar dan belahan bumi lainnya. Kini umat Islam kembali berduka atas penindasan yang dialami oleh muslim Uighur di Xinjiang, Cina.

Siapa muslim Uighur?

Muslim Uighur adalah penduduk etnis Turki minoritas yang hidup di Xinjiang, Cina. Awalnya adalah negara berdaulat Republik Turkistan Timur, sampai akhirnya menjadi bagian dari Cina pada tahun 1949. Meskipun ditetapkan sebagai daerah otonomi, Xinjiang tidak benar-benar bebas dari cengkraman partai komunis.

Bahkan baru-baru ini Beijing mengeluarkan aturan yang jelas mendiskriminasi muslim Uighur seperti melarang melakukan ibadah dan atau mengenakan pakaian keagamaan di depan umum. Melarang upacara pernikahan dan pemakaman menggunakan unsur agama dan masih banyak lainnya.

Yang paling parah adalah rezim komunis Cina menangkapi muslim Uighur dan memasukkan mereka ke dalam kamp re-edukasi atau pendidikan ulang. Sejak April 2017, pemerintah Cina sudah menangkap sekitar dua juta muslim Uighur ke dalam kamp tersebut.

Di kamp inilah muslim Uighur mengalami berbagai penyiksaan dan doktrinasi komunis. Yang laki-laki disiksa dan dipaksa untuk menyanyikan lagu-lagu komunis dan yang perempuan diperkosa. Jika menolak mereka akan dibunuh dan mayatnya pun dibakar sehingga keluarga korban tidak bisa melihat jenazah anggota keluarganya.

Sedemikian sadis perlakuan rezim komunis terhadap muslim Uighur tapi negara-negara muslim lainnya tetap saja bungkam, mereka seolah-olah menutup mata, telinga dan hati mereka. Padahal sejatinya sesama muslim itu bersaudara tak memandang suku bangsa dan warna kulit, kalau dia beragama Islam maka dia adalah saudara kita. Sebagaimana firman Allah swt :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (Qs. Al-hujurot :10).

Dan sabda Rasulullah saw :
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim)

Inilah gambaran bagaimana persaudaraan dalam Islam, jika seorang muslim yang terluka maka muslim yang lainnya akan merasakan hal yang sama. Karena orang-orang yang beriman itu bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh terluka maka anggota tubuh lainnya ikut merasakan sakitnya.

Namun negara-negara muslim masih saja diam tidak memberikan pertolongan, padahal mereka mampu mengirimkan tentara dan senjata untuk membebaskan muslim Uighur dari cengkraman komunis Cina. Termasuk Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim tidakkah merasa terpanggil dengan penderitaan yang dialami saudaranya?

Seperti dilansir dari Eramuslim.com – Sikap pemerintahan Presiden Joko Widodo yang seakan menutup mata terkait dugaan pelanggaran HAM yang dialami umat muslim Uighur di Xinjiang, China disesalkan banyak pihak.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin menduga bahwa sikap Jokowi yang tidak mau bersuara, disebabkan hubungan baik saat ini antara pemerintah Indonesia dengan China.

“Tapi sejatinya pemerintah harus berani keras mengkritik China terkait pelanggaran HAM yang terjadi pada muslim Uighur,” kata Ujang saat berbincang dengan redaksi, Sabtu (15/12/2018).

Sikap yang ditunjukkan oleh pemerintah Indonesia membuktikan bahwa negara ini adalah negara sekuler yang tidak berlandaskan Islam, dan sekat nasionalisme menjadikan negara ini tidak peduli dengan penderitaan muslim lainnya yang tidak berada di wilayah kekuasaannya. Berbeda dengan sistem khilafah, saat khilafah tegak khalifah akan membela kaum muslimin dimanapun mereka berada. Karena khalifah adalah perisai bagi kaum muslimin yang akan melindungi harta, darah, dan kehormatan kaum muslimin.

Rasulullah saw bersabda : "Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Sejarah mencatat bagaimana kisah heroik sang khalifah saat membela kehormatan seorang wanita muslimah yang dilecehkan oleh orang kafir.

Pada Tahun 837 M pada zaman kekhalifahan ABU ISHAQ 'ABBAS AL-MU'TASIM IBN HARUN AR-RASYID (795-842 M) akrab disapa al-mu'tasim billah pada masa dinasti Abbasiyah. Ketika itu ada seorang budak wanita muslimah yang diganggu oleh orang Romawi saat berbelanja dipasar. sebagaimana kita ketahui, Muslimah itu cenderung dengan pakaian yang tertutup rapih menutupi auratnya. Namun itu malah memancing orang Romawi yang berpenyakit hatinya untuk mengganggu wanita tersebut. dia mengkaitkan pakaian wanita itu pada sesuatu sehingga saat wanita itu bergerak, tersingkaplah auratnya.Wanita itu yang konon berasal dari bani hasyim. Tak tahan dengan pelecehan tersebut, berteriaklah ia memanggil sang khalifah dengan kalimat yang sangat legendaris "WAA MU'TASIMAAH !" yang artinya "DIMANA KAU MU'TASIM, TOLONGLAH AKU".

Ammuriyyah, adalah sebuah kota dibawah kekuasaan Romawi masih di daerah benua asia, dimana wanita itu dilecehkan dan berteriak. Sedangkan Khalifah Al-Mu'tasim berada di pusat pemerintahan di kota Baghdad (sekarang irak). Namun saat teriakan itu sampai kepada Al-Mu'tasim. Beliau langsung memerintahkan panglima perang untuk mengumpulkan pasukan untuk memenuhi panggilan wanita itu.

Beribu-ribu pasukan langsung dikerahkan, banyak sekali sehingga saat pasukan itu berbaris, pasukan terdepan sudah ada di kota Ammuriyah, sedangkan pasukan yang ada di belakang masih di perbatasan kota Baghdad. Sebegitu seriusnya Khalifah Al-Mu'tasim dalam melindungi kehormatan seorang wanita, dan kehormatan Islam tentunya. Bertempurlah pasukan Islam dan pasukan Romawi 13 Agustus 833 M. 30.000 pasukan Romawi tewas, 30.000 pasukan romawi yang lain dijadikan budak. Tinta emas Islam mencatat, itulah kisah heroik yang sangat fenomenal, demi kemuliaan seorang wanita dan kemuliaan Islam.

Setelah selesai perang, khalifah Al-Mu'tasim mengunjungi rumah wanita tersebut, Beliau memerdekakan wanita tersebut dan menjadikan lelaki yang melecehkannya sebagai budaknya. Beliau (Khalifah Al-Mu'tasim) berbicara "wahai saudariku, Apakah aku telah memenuhi panggilanmu atasku?" (Sejarah Dunia Islam, blogspot.com)

Ini hanya seorang muslimah yang dilecehkan, apalagi jika banyak muslimah yang dilecehkan dan banyak kaum muslimin yang dibunuh sudah pasti khalifah dan bala tentaranya akan datang membela kaum muslimin yang tertindas dan memerangi orang-orang kafir. Jadi sudah sepantasnya khilafah ditegakkan di muka bumi, agar kaum muslimin hidup aman dan damai dibawah naungannya. Wallohu a'lam bishowab.[]

Tidak ada komentar