Lulu Nugroho*: Cinta Ulama


Lulu Nugroho
ZONALABOUR.COM, JAKARTA - Baru-baru ini beredar di dunia maya suatu pemandangan yang indah, tentang bagaimana seorang ulama menghormati ulama lain. Sebuah tayangan di Al Bahjah TV, pada pengajian Buya Yahya. Setelah tausiyah, dalam sesi tanya jawab, seseorang tampak mengacungkan tangannya kepada Buya untuk bertanya.

Beliau duduk di belakang, di antara sejumlah orang yang hadir saat itu. Ketika mendengar bahwa nama penanya tadi adalah Novel bin Muhammad Alaydrus dari Solo, serta merta Buya Yahya turun dari podium dan menyambut penanya. Mereka saling mencium tangan, menghormati satu sama lain. Buya memperkenalkan pada seluruh yang hadir bahwa Habib Novel seorang ulama.

Keduanya ulama tawadhu'. Saling menghargai, saling menghormati sesama pemilik ilmu. Tidak heran jika mereka bersikap seperti itu. Sebab Islam memang meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kalian beberapa derajat, dan Dialah yang Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah:11).

Inilah keutamaan orang-orang yang menuntut ilmu. Dalam Islam, mereka disebut ulama. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Faathir ayat 28, 'Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama'.

Menurut bahasa, kata Ulamāʾ berasal dari bahasa arab ( علم, يعلم yang berarti mengetahui) perubahan kaidah tashrif arab menjadi kata (عالِم Ālim) ismul fa~il (kata untuk menunjukkan si pelaku yang berarti orang yang mengetahui). Kemudian dari kata tunggal (عالِم) berubah menjadi kata jamak (العلماء) yang diartikan sebagai orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.

Diartikan secara bebas oleh wikipedia, ulama (Arab:العلماء ʿUlamāʾ, tunggal عالِم ʿĀlim) adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupun masalah sehari-hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

Dengan ilmunya, ulama menjaga akidah umat. Memeliharanya agar tetap berada dalam keimanan. Ulama menjelaskan ide-ide Islam. Menyeru umat agar berpegang teguh pada hukum Allah, mengaitkan setiap aktivitasnya dengan perintah dan larangan Allah Subhaanahu wa ta'ala. Ulama mengajak pada yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar.

Ulama juga menjaga pemikiran umat agar tetap berada dalam ketinggian berpikir. Menjelaskan bahaya racun tsaqofah yang beredar di tengah umat, baik itu sosialime atau sekularisme. Menampakkannya hingga umat tergambar jelas pemikiran yang sahih, dari yang batil. Kemudian menggiring umat untuk bersama-sama mencampakkannya. Dengan cara mengajak umat untuk berpikir politis, agar tercipta jawul iimani atau suasana keimanan.

Tugas ulama membuang seluruh pemikiran kufur. Membersihkan hati dan kepala umat dari pemikiran usang yang menghalangi menuju kebangkitan. Akan tetapi hal ini tidak terjadi dalam sekularisme. Kondisi yang berbanding terbalik.Persekusi ulama tidak terelakkan. Label buruk bagi ulama menjadi hal biasa. Kriminalisasi terjadi tanpa henti. Umat terpecah belah, dibuat bingung, kebenaran yang mana yang harus mereka pegang.

Tak hanya itu, ulama pun dalam waktu yang bersamaan mendapat serangan fisik yang dilakukan 'orang-orang gila' beberapa waktu lalu. Hingga tuduhan miring dan stigmatisasi negatif melekat pada ulama. Seperti yang terjadi baru-baru ini terhadap pembatalan pembebasan Ustaz Ba'asyir, ulama sepuh 81 tahun Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo.

Jokowi awalnya menyatakan sudah memberi izin pembebasan terpidana kasus terorisme tersebut. Salah satu pertimbangan Jokowi adalah faktor kemanusiaan mengingat usia dan kondisi kesehatan Ba'asyir. "Faktor kemanusiaan. Artinya, beliau sudah sepuh. Ya faktor kemanusiaan, termasuk kondisi kesehatan," kata Jokowi di Pondok Pesantren Darul Arqam, Jl Ciledug, Garut, Jawa Barat, Jumat (18/1/2019), detiknews.com (22/1/2019).

Itulah sebabnya sekalipun ganti presiden berkali-kali, akan tetapi jika menafikan penerapan syariat, maka tidak akan terbentuk kemuliaan umat. Sebab selama sekularisme atau sosialisme masih diemban penguasa, maka selamanya umat berada dalam kehancuran. Akidah umat tidak terjaga. Ulama tidak mendapat tempat istimewa.

Sungguh tidak ada kemuliaan pada sistem di luar Islam. Seluruhnya adalah pemikiran rusak dan kufur. Ulama yang dimuliakan umat karena menjadi garda terdepan dalam perjuangan Islam, dalam sistem kufur, terhina. Padahal Islam memberi mereka kedudukan yang tinggi. “Keutamaan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang-bintang.” [Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu Hibban, dan itu sepotong dari hadits Abu Darda’].

Dalam hadits lain disebutkan, "Sesungguhnya para malaikat melebarkan sayapnya karena rida kepada orang yang menuntut ilmu. Sesungguhnya makhluk yang berada di langit dan di bumi sampai ikan paus yang di dalam lautan senantiasa memohonkan ampun (kepada Allah) bagi orang yang berilmu (‘alim)” (HR Abu Daud dan Tirmidzi). Bahkan malaikat pun berkhidmat pada Ulama.

Maka saatnya kembali pada syariat Islam. Ummatan waahidatan mutlak diperlulan dalam Islam. Sebab hal itulah yang menggentarkan musuh-musuh Islam. Kemudian, kita bersama tegakkan Khilafah sebagai institusi yang mampu menerapkannya. Agar kembali kemuliaan umat dan Islam. Wallahu 'alam

*Muslimah Revowriter Cirebon

Tidak ada komentar