Desi Wulan Sari, S.E, Msi: Saat Khilafah Tegak Di Tengah Umat


Desi Wulan Sari, S.E, Msi

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Siapa yang tidak menginginkan hidup tengah-tengah negara yang penuh dengan rasa aman, nyaman dan terpenuhi segala kebutuhan masyarakatnya. Seakan seperti mimpi jika ingin memiliki negara seperti itu. Apakah mungkin? Apakah hanya mimpi?

Saat ini, Indonesia sedang berada dalam posisi yang patut mendapat perhatian. Karena fakta yang ada sekarang banyak rakyat justru mengeluhkan sulitnya fasilitas dan akses umum yang didapat masyarakat. Sebut saja jalan yang rusak, tarif tol yang mahal, listrik yang mahal, air bersih yang mahal, pelayanan kesehatan yang sulit didapat bahkan lapangan pekerjaan yang sulit didapat. Yang lebih memprihatinkan adalah masih banyak anak-anak di negeri ini yang menderita dan mengalami kekurangan gizi. Fakta miris yang tidak bisa kita abaikan.

Itu adalah sebagian kecil permasalahan dari sekian banyak problematika negara yang dihadapi masyarakat Indonesia. Bahkan mengentaskan kemiskinan dan memperbaiki nasib rakyat yang terpuruk menjadi jualan para caleg saat kampanye.

Menurut Ketua Tim Kampanye Nasional J-M, Erick Thohir, dalam Konvensi Rakyat yang mengangkat tema 'Optimis Indonesia Maju' di Sentul Internasional Convention Center pada Minggu (24/2). Slogan Indonesia Maju yang digaungkan pasangan calon presiden JW-MA merupakan sebuah wujud optimisme.

"Indonesia maju bukan hanya slogan. Indonesia maju adalah wujud optimisme. Sebuah tranformasi dari harapan besar bangsa Indonesia," ujarnya. Erick Thohir memastikan bahwa petahana JW adalah capres yang mendengarkan kebutuhan rakyat. Sebab, dia salah satu capres yang berasal dari rakyat biasa sehingga dinilai mampu membawa perubahan untuk bangsa Indonesia (Rmol.co, 25/2/1/2019).

Jelas, sebenarnya apa yang dikampanyekan merupakan gambaran yang mengungkapkan realitas bahwa hari ini Indonesia dalam kondisi multikrisis akibat berkhidmat kepada sekulerisme dan demokrasi yang merupakan sistem warisan penjajah di masa lalu.

Permasalahan seperti ini akan terus menerus berulang di dalam kehidupan masyarakatnya. Sistem negara yang ada saat ini belum bisa mendukung dalam mewujudkan masyarat yang adil dan makmur. Betapa tidak, sistem demokrasi yang dulu begitu manis diucap, ternyata semakin lama mulai terkuak hakikat sebenarnya. Terlihat dari kondisi umat yang kian hari kian terpuruk dan terbelakang saat ini.
Ekonomi Terpuruk.

Demokrasi sebagai sebuah metode operasional Kapitalis-Sekular, telah menyebabkan kerusakan dan kehancuran ekonomi Indonesia bahkan Dunia. Buktinya Krisis Global yang masih terus terjadi telah menyengsarakan umat bahkan menyengsarakan dunia. Akibat dari paham Kebebasan kepemilikan (freedom of ownership) manusia menjadi makhluk rakus dan tamak akan harta akibat representatif riba, akhirnya privatisasi atau kapitalisasi aset bangsa merajalela.

Kwik Kian Gie (doktor Ekonomi lulusan Roterdam – Belanda), mnyebutkan bahwa sejak bulan November tahum 1967 Indonesia sudah menyerahkan dirinya untuk diatur dan dijadikan target penghisapan oleh korporasi internasional yang oleh para pemimpin kita dibiarkan dan di jamin oleh undang-undang. (Koraninternet.com, 25/5/2008). Masalah ekonomi ini diakibatkan menggunakan sistem ekonomi kapitalisme, yang telah disahkan oleh demokrasi.


Politik Yang Merusak Moral
Dengan prinsip kebebasan berperilaku politik, Indonesia menjadi carut marut, buktinya, dengan dana pesta foya menjelang April setiap tahunnya. contohnya disebutkan dalam versi http://www.mediaumat.com 47,9 Triliun –anggaran Pemilu 2009– merupakan jajan Demokrasi yang sangat tinggi.

Adapun dari aspek perilaku peserta politik, ternyata dengan tidak mengurangi rasa ilmiah dapat dikatakan tidak memuaskan, Pemilu dari tahun ke-tahun tidak memuaskan dan minim hasil. Maka wajar jika Direktur Eksekutif Survei Indo Barometer M. Qadari menemukan –dari 1.200 sampel di 33 Propinsi– sekitar 54,6 % masyarakat tidak puas atas kinerja parpol.

Mengapa perpolitikan Indonesia kian hari kian tidak nyaman. Tentu karena sistem yang ada sekarang telah menyuburkan politik kepentingan, yakni kepentingan kapitalisme (baca: uang). Sebagaimana dikatakan oleh Imam B Prasodjo –sosiolog Universitas Indonesia. ” Dalam persepsi caleg, yang pertama, tentu saja menjadi anggota DPR itu merupakan status yang prestisius dan mewah. Sehingga mereka berani melakukan analisis dan bertaruh untuk mendapatkan posisi itu. Yang kedua menjadi anggota DPR itu berarti menjadi orang yang memiliki banyak fasilitas baik berupa gaji yang cukup memadai maupun total pendapatan perbulan yang cukup besar sekitar 50 jutaan” (Media Umat: 6-19/03/09).

Demikianlah gambaran demokrasi telah membuat politik Indonesia semakin tidak menentu, lagi-lagi paham kebebasan yang di agung-agungkan oleh demokrasi telah menjadi sebab utamanya.

Saat Islam Tampil Memimpin Umat
Peradaban Islam telah memberikan tinta emas dalam perjalanan kehidupan manusia dalam berbagai aspek. Kemajuan ilmu pengetahuan hingga kesejahteraan masyarakat turut menjadi catatan gemilang ketika peradaban Islam tegak di muka bumi ini. Peradaban Islam tersebut adalah masa dimana Islam menjadi pedoman dalam segala lini kehidupan rakyat dengan kesempurnaan aturan yang ada di dalamnya dan tegak dalam satu institusi politik Khilafah Islamiyyah.

Salah satunya contoh dalam masa khilafan berdiri. Mary McAleese, Presiden ke-8 Irlandia yang menjabat dari tahun 1997 sampai 2011. Dia juga seorang anggota Delegasi Gereja Katolik Episkopal untuk Forum Irlandia Baru pada 1984 dan anggota delegasi Gereja Katolik ke North Commission on Contentious Parades pada 1996. Dalam pernyataan persnya terkait musibah kelaparan di Irlandia pada tahun 1847 (The Great Famine), yang membuat 1 juta penduduknya meninggal dunia. Terkait bantuan itu, Mary McAleese berkata:

“Sultan Ottoman (Khilafah Utsmani) mengirimkan tiga buah kapal, yang penuh dengan bahan makanan, melalui pelabuhan-pelabuhan Irlandia di Drogheda. Bangsa Irlandia tidak pernah melupakan inisiatif kemurahan hati ini.

Bukti Kesejahteraan Rakyat era Khilafah
Era Khilafah adalah masa dimana dunia Islam mendapatkan tempat istimewa dari lawan maupun kawan karena keagungan yang dimilikinya. Tentang bagaimana kewibawaan peradaban Islam dimata lawan maupun kawan dengan segala keutamaan yang ada padanya.

1. Infrastruktur
Dalam hal infrastruktur bisa terlihat bagaimana tata ruang kota-kota besar pada era khilafah. Utamanya terdapat di dalam kota-kota besar Islam pada waktu itu yang pada waktu menjadi satu bentuk keagungan tersendiri dibandingkan peradaban lainnya, khsusunya barat.
 
Pada masa Bani Umayyah, Cordoba menjadi ibukota Andalus yang muslim. Kota ini dikelilingi dengan taman-taman hijau. Pada malam harinya diterangi dengan lampu-lampu sehingga pejalan kaki memperoleh cahaya sepanjang sepuluh mil tanpa terputus. Lorong-lorongnya dialasi dengan batu ubin, dan sampah-sampah disingkirkan dari jalan-jalan. Penduduknya lebih dari satu juta jiwa.

Tempat-tempat mandi berjumlah 900 buah dan rumah-rumah penduduknya berjumlah 283.00 buah. Gedung-gedung sebanyak 80.000 buah, masjid ada 600 buah dan luas kota Cordoba adalah 30.000 hasta. Tiinggi menaranya 40 hasta dengan kubah menjulang berdiri di atas batang-batang kayu terukir yang ditopang oleh 1093 tiang yang terbuat dari berbagai marner.

Pada malam hari ada sebuah masjid dengan 4.700 buah lampu yang meneranginya dan setiap tahunnya menghabiskan 24.000 ritl minyal. Di sisi selatan masjid tampak 19 pintu berlapiskan perunggu yang sangat menakjubkan kreasinya, sedang di pintu tengahnya berlapiskan lempengan-lempengan emas.

Di Granada terdapat bangunan di dalam Istana Al-Hamra yang merupakan lambang keajaiban dari masa ke masa. Istana ini didirikan di atas bukit yang menghadap ke kota Granada dan hamparan ladang yang luas dan subur mengelilingi kota itu sehingga tampak sebagai tempat terindah di dunia.

Jika beralih ke Baghdad akan dijumpai bahwa biaya yang dibelanjakan untuk membangun kota ini mencapai 4.800.000 dirham, sedang jumlah pekerja mencapai 100.000 orang. Kota ini mempunyai tidak lapis tembok besar dan kecil mencapai 6.000 buah di bagian timur dan 4.000 buah di bagian barat. Selain sungai Dijlah dan Furat, di situ juga terdapat 11 sungai cabang yang airnya mengalir ke seluruh rumah-rumah dan istana-istana Baghdad. Di sungai Dijlah sendiri terdapat 30.000 jembatan. Tempat mandinya mencapai 60.000 buah. Masjid-masjid mencapai 300.000 buah. Bukti majunya peradaban Islam dalam hal bangunan tentu tidak terbatas dalam tempat tersebut.

2. Pendidikan dan Kesehatan
Dalam bidang pendidikan, khilafah Islam sangat memperhatikan agar rakyatnya cerdas. Anak-anak dari semua kelas sosial mendapatkan pendidikan dasar yang terjangkau semua orang. Negaralah yang membayar para gurunya. Selain 80 sekolah umum Cordoba yang didirikan Khalifah Al-Hakam II pada 965 M, masih ada 27 sekolah khusus anak-anak miskin. Di Kairo, Al-Mansur Qalawun mendirikan sekolah anak yatim. Dia juga menganggarkan setiap hari ransum makanan yang cukup serta satu stel baju untuk musim dingin dan satu stel baju untuk musim panas.

Bahkan untuk orang-orang badui yang berpindah-pindah, dikirim guru yang juga siap berpindah-pindah mengikuti tempat tinggal muridnya.

Seribu tahun yang lalu, universitas paling hebat di dunia ada di Gundishapur, Baghdad, Kufah, Isfahan, Cordoba, Alexandria, Cairo, Damaskus dan beberapa kota besar Islam lainnya. Perguruan tinggi di luar khilafah Islam hanya ada di Konstantinopel yang saat itu masih menjadi ibukota Romawi Byzantium, di Kaifeng ibukota China atau di Nalanda, India. Di Eropa Barat dan Amerika belum ada perguruan tinggi.

Selain itu dikenal juga dengan istilah kuttab yang menjadi tempat belajar dan dibangun di samping masjid. Menurut Ibnu Haukal, di satu kota saja dari kota-kota Sicilia ada 300 kuttab, bahkan ada beberapa kuttab yang luas dan mampu menampung hingga ratusan bahkan ribuan siswa.

Dalam bidang kesehatan, pada kurun abad 9-10 M, Qusta ibn Luqa, ar-Razi, Ibn al-Jazzar dan al-Masihi membangun sistem pengelolaan sampah perkotaan, yang sebelumnya hanya diserahkan pada kesadaran masing-masing orang, yang di perkotaan padat penduduk akan menciptakan kota yang kumuh. Kebersihan kota menjadi salah satu modal sehat selain kesadaran sehat karena pendidikan.

Tenaga kesehatan secara teratur diuji kompetensinya. Dokter Kekhalifahan menguji setiap tabib agar mereka hanya mengobati sesuai dengan pendidikan atau keahliannya. Mereka harus diperankan sebagai konsultan kesehatan dan bukan orang yang sok mampu mengatasi segala penyakit. Ini adalah sisi hulu untuk mencegah penyakit sehingga beban sisi hilir dalam pengobatan jauh lebih ringan.

Negara membangun rumah sakit di hampir semua kota di seantero Khilafah Islam. Bahkan pada tahun 800 M di Bagdad sudah dibangun rumah sakit jiwa yang pertama di dunia. Sebelumnya pasien jiwa hanya diisolasi dan paling jauh dicoba diterapi dengan ruqyah. Rumah-rumah sakit ini bahkan menjadi favorit para pelancong asing yang ingin mencicipi sedikit kemewahan tanpa biaya, karena seluruh rumah sakit di dalam Khilafah Islam ini bebas biaya.

3. Pertanian dan Industri
Dalam bidang pertanian, dikenal dengan ‘revolusi pertanian Muslim’ yang menyinergikan semua teknologi baik cuaca, peralatan untuk mempersiapkan lahan, teknologi irigasi, pemupukan, pengendalian hama, teknologi pengolahan pasca panen hingga manajemen perusahaan pertanian.

Dengan adanya revolusi ini menaikkan panen hingga 100% pada tanah yang sama. Kaum Muslim mengembangkan pendekatan ilmiah yang berbasis tiga unsur: sistem rotasi tanaman; irigasi yang canggih; serta kajian jenis-jenis tanaman yang cocok dengan tipe tanah, musim dan jumlah air yang tersedia. Inilah cikal-bakal “precission agriculture“. Revolusi ini ditunjang juga dengan berbagai hukum pertanahan Islam sehingga orang yang memproduktifkan tanah mendapat insentif. Tanah tidak lagi dimonopoli kaum feodal yang menyebabkan banyak penindasan sebagaimana pernah terjadi di Eropa.

Dalam bidang industri, khilafah ternyata memiliki spektrum yang sangat luas. Donald R. Hill dalam bukunya, Islamic Technology: an Illustrated History (Unesco & The Press Syndicate of the University of Cambridge, 1986), membuat sebuah daftar yang lumayan panjang dari industri yang pernah ada dalam sejarah Islam; mulai dari industri mesin, bahan bangunan, persenjataan, perkapalan, kimia, tekstil, kertas, kulit, pangan hingga pertambangan dan metalurgi.

Alih teknologi dalam Islam berlangsung sejak Abad Pertama hingga Abad Kesepuluh Hijrah. Selama periode tertentu, sebagian besar alih teknologi itu berlangsung dari Islam ke Eropa dan bukan sebaliknya.

Dalam sebuah kota yaitu Sevilla terdapat 6.000 alat tenun untuk sutera. Setiap penjuru kota dikelilingi pohon-pohon zaitun sehingga di situ terdapat 100.000 tempat pemerasan minyak zaitun. Secara umum, kota-kota peninggalan Islam yang sekarang masuk Spanyol di dalamnya terdapat pabrik-pabrik baju besi, topi baja dan alat perlengkapan baja lainnya.

Bukti-bukti tentang kesejahteraan era Khilafah tidak sebatas pada apa yang disebutkan di atas. Masih sangat banyak bentuk kegemilangan yang menjadi catatan emas sejarah Islam dari mulai masa Khulafaur Rasyidin, hingga masa khalifah-khalifah setelahnya. Seperti masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, Harun Ar Rasyid dan setiap khalifah pada masa khilafah Islamiyyah masih tegak. Catatan-catatan tersebut bisa dirujuk dalam banyak karya seperti dalam kitab Min Rawa’i Hadhratina, dalam buku 1001 Inventions Muslim Heritage in Our World dan karya-karya lainnya.
 
Kebijakan Khilafah Menjamin Kejehateraan
Adapun beberapa bentuk aturan atau kebijakan dalam khilafah sehingga ada keterjaminan kesejahteraan bagi rakyat antara lain:

Pertama. Khilafah adalah sebuah negara yang Islam diterapkan menetapkan bahwa setiap muslim laki-laki, khususnya kepala rumah tangga memiliki tanggung jawab untuk bekerja guna memberikan nafkah baginya dan bagi keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.

Kedua. Islam mengatur ketika masih ada kekurangan atau kemiskinan yang menimpa seseorang, maka tanggung jawab itu menjadi tanggung jawab sosial. Maksudnya keluarga dan tetangga turut dalam membantu mereka yang masih dalam kekurangan dengan berbagai macam aturan Islam seperti zakat, sedekah dan lainnya.

Ketiga. Khilafah melalui pemimpin tertingginya yaitu seorang khalifah adalah pihak yang mendapatkan mandat untuk mengayomi dan menjamin kesejehteraan rakyat. Dia yang akan menerapkan syariah Islam, utamanya dalam urusan pengaturan masyarakat seperti sistem ekonomi dan lainnya.

Dalam sistem ekonomi, khilafah memiliki kebijakan dalam mengatur kepemilikan kekayaan negara sesuai Islam. Ada kepemilikan individu, umum dan negara yang semua diatur sedemikian rupa untuk kemakmuran rakyat. Pengaturan tersebut kemudian akan masuk dalam Baitul Mal yang menjadi pusat kekayaan khilafah. Arahnya adalah untuk menjamin kehidupan per-individu rakyat agar benar-benar mendapatkan sandang, pangan dan papan. Serta untuk mewujudkan jaminan bagi rakyat dalam bidang pendidikan, kesehatan, keamanan, pertanian, industri, infrastruktur dan lainnya.

Secara rinci akan dijumpai dan merujuk dalam aturan Islam mengenai pengaturan ekonomi dalam negara yang disebut dengan sistem ekonomi Islam. Dan dalam era khilafah dulu ataupun yang akan tegak nantinya, sistem ekonomi Islam menjadi salah satu paket dari sistem lainnya seperti politik-pemerintahan, hukum dan sebagainya yang akan diterapkan secara utuh dan menyeluruh.

Melihat skala perbandingan kehidupan saat demokrasi memimpin dan saat khilafah memimpjn, masing-maaing kondisi negara dan masyarakatnya dapat kita nilai dari capain arti sebuah kemakmuran dan kesejahteraan. Maka Indonesia dapat maju dan bangkit dengan kembali pada jatidirinya sebagai umat Islam dan menerapkan hukum-hukum islam. Islam ideologilah modal besar kita dalam mensejahterakan negara dan umat. Bukan dengan mempertahankan sisten rusak yang jadi alat pemilik modal besar, yang seperti saat ini sedang berlangsung. Wallahu a'lam bishawab.[]


Penulis adalah lulusan S1 Manajemen Pemasaran (STIE Kampus Ungu) dan S2 Sosiologi (FISIP Univ Indonesia)

Tidak ada komentar