Hijriana: Kapitalisasi Pendidikan Tinggi Makin Menggila Di Era R I 4.0


Hijriana

RADARINDONESIANEWS.COM JAKARTA - Pemerintah Indonesia dengan adanya revolusi industri 4.0 ini banyak melakukan pembaruan, era globalisasi digadang-gadang mampu memberikan banyak kemudahan dan pemerintah berharap mampu meningkatkan daya saing dan menjadikan indonesia sebagai 1 dari 10 negara dengan ekonomi terbaik di dunia.

Dalam aspek pendidikan Kementrian riset teknologi dan pendidikan tinggi merespon hal ini dengan melakukan perubahan regulasi besar-besaran, salah satunya adalah mengimpor Guru besar level internasional. Menurut kemenristekdikti, regulasi ini bertujuan baik untuk menghantarkan pendidikan tinggi indonesia ke kancah internasional agar masuk kelas dunia atau World Class University (WCU) dengan cara meningkatkan program doktor, publikasi intenasional, dan kerja sama riset antar perguruan tinggi.

Perombakan kurikulum perkuliahan di lakukan dengan tujuan mengangkat tinggi derajat pendidikan indonesia menyelaraskan dengan revolusi industri 4.0 untuk menjadikan indonesia semakin di pandang di kancah internasional dalam dunia pendidikan.

Revolusi industri 4.0 memfokuskan 4 hal di bidang perguruan tinggi yaitu( Muslimah media center):

1. menyelaraskan paradigma tridharma perguruan tinggi harus diselaraskan dengan era industri 4.0.

2. Reorientasi kurikulum untuk mecakup literasi baru, big data, teknologi dan humanities.

3. Menerapkan sistem pembelajaran hibrid ( Blended Learning Online)

4. Adanya peran hibah dan bimbingan teknis .

Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan seharusnya menjadi tempat mencari ilmu, namun sayangnya sekarang berubah status menjadi seperti industri yang tidak semua orang bisa masuk di dalamnya, jika dilihat sistem pendidikan sebelum revolusi industri 4.0 juga sudah sangat memprihatinkan.

Padahal pendidikan adalah hak yang wajib di dapatkan oleh setiap warga negara, pemerintah berkewajiban memberikan hak ini dengan tidak mempersulit apalagi membandrol harga pendidikan dengan harga yang fantastis. Akibatnya banyak dari mereka yang ingin melanjutkan pendidikan berhenti ditengah jalan.

Harapan hanyalah harapan semakin canggihnya teknologi nyatanya tidak mampu memberikan perubahan. Baik, dari segi pendidikan maupun yang lainnya, sekalipun kebijakan di desain sehebat mungkin kerancuan pada kebijakan tinggi tetap saja menjadi momok menakutkan hingga detik ini.

Semua ini tidak terlepas dari sistem kapitalisme global yang menjadikan pendidikan sebagai komoditas semata, intelektual sebagai mesin pencetak uang. Perguruan tinggi sebagai tempat menimbah ilmu disulap bak industri yang disiapkan untuk meraup keuntungan materi untuk mendongkrak pendapatan para kapital. Akibatnya intelektual saat ini mengalami krisis moral, pragmatis juga hedonis.

Islam memandang pendidikan sebagai hal wajib yang harus ada di tengah-tengah masyarakat dan disediakan oleh negara secara gratis. Pendidikan tinggi bukan industri dan seharusnya mencetak generasi yang mampu mengatur urusan umat dan bukan sebagai komoditas semata. Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya ( Al-ihkam ) berkata Khalifah berkewajiban menyediakan sarana pendidikan, sistem pendidikan, dan menggaji para pendidiknya.

Pada masa kegemilangan islam selama 1300 tahun terbukti mampu mencetak generasi yang bukan hanya cerdas tapi juga berkepribadian islami karena ini adalah tujuan sebenarnya pendidikan. Rasulullah SAW bersabda “ Dan keutamaan orang yang beirlmu atas orang yang beriman adalah seperti keunggulan bulan di atas seluruh benda-benda langit, Sungguh para ulama adalah pewaris para nabi, satu-satunya warisan para ulama adalah pengetahuan sehingga siapapun yang mengambil hal itu maka sungguh ia telah mengambil bagian yang paling cerdas ( HR. Qois Bin Katsir ).

Pendidikan tinggi di desain untuk Menguasai berbagai ilmu dan tak fokus pada satu bidang saja. Labana dari Cordoba menguasai ilmu matematika dan sastra, Maryam Al-asturlabi ahli astronomi, Fatimah Al-fihri rektor dan pendiri universitas pertama di dunia, dan masih banyak lagi intelektual yang terbukti berhasil dilahirkan dari sistem pendidikan berbasis islam.

Maka sekarang sudah saatnya kita kembali kepada sistem islam, lalu campakkan kapitalisme dan semua sistem yang berasal dari mahluk. Saatnya kembali pada sistem yang terbukti mampu mencerdaskan kehidupan bangsa juga negara, bahkan dunia yang segala kebijakannya mampu memberi perubahan di segala bidang kehidupan.[]


Penulis adalah Mahasiswi

Tidak ada komentar