Sania Nabila Afifah: Islam Politik Dan Spritual


Sania Nabila Afifah

ZONALABOUR.COM, JAKARTA - Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT yang tidak lain bertujuan untuk mengatur umat manusia. Sejak kemundurun umat Islam pasca dicampakkan-nya sistem Khilafah, umat saat ini kebingungan, bak itik keilangan induk.

Kejumudan sistem aturan yang serampangan sebab ditegakkannya sistem kehidupan yang tidak lagi tegak di atas pondasi yang kokoh yaitu aqidah Islam. Dari sanalah muncul para pemikir, ulama yang juga cerminan dari sistem sekuler. Pemahaman tidak lagi murni mencerminan kemulian Islam pada dirinya dan ilmunya. Yang ada malah sebaliknya, pemahaman mereka bertolak belaka dengan apa yang mereka fahami.

Beberapa kali terjadi hal yang sepertinya tidak masuk akal menjadi sesuatu yang menarik untuk dihembuskan ke hadapan khalayak umum. Seperti seorang ustadz yang memberikan gelar pada penguasa kita dengan sebutan 'seperti Khalifah Umar' karena terkenal dengan blusukan-nya, atau seperti 'Nabi Ayyub' yang sabar karena banyaknya musibah yang melanda negeri ini, akhir-akhir ini terdengar di telinga dengan julukan seperti 'Nabi Musa' bahwa paslon nomer 01 merupakan sosok yang mampu memberikan harapan dalam kapasitasnya sebagai kepala negara sekaligus keluarga yang sukses.

Begitulah hasil penelitian para ustadz dan juga parpol dalam pembekalan pemenangan 01. Itulah kondisi para pemikir kita saat ini. Kebanyakan mereka kapabel dalam menafsirkan alquran, hafal alquran tetapi sayang pemikirannya sudah terkena virus sekulerisme. Dengan membandingkan seseorang yang sangat jauh sekali dengan sosok seorang Nabi, apa yang ada di benak mereka? Apa yang membuat mereka berpendapat seperti itu?

Islam tidak hanya sekedar spirit. Karena Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Sebagai muslim saja kita dituntut untuk mempelajari Islam, mengamalkan, menyebarkan dan menerapkan dalam kehidupan. Karena Islam bukan agama teologis. Islam saat ini hanya dijadikan sebagai pengatur urusan ibadah ritual saja.

Semua itu terjadi tak lepas dari pengaruh sistem kehidupan yang saat ini dijadikan pijakan dalam mengatur kehidupan, yaitu sekulerisme yang yang memisahkan agama dari kehidupan.

Beberapa abad silam, Allah berfirman bahwa Islam adalah agama sempurna yang diturunkan-Nya untuk mengatur umat manusia. Hal ini termaktub di dalam Quran, surat Al Maaidah:3 yang berbunyi, "Hari ini telah aku sempurnakan agama kalian, mencukupkan nikmat-Ku untuk kalian serta meridhoi Islam sebagai agama bagi kalian."

Dari nash tersebut, jelas bahwa Islam telah sempurna sehingga pasti tidak ada satu hal pun yang tidak diatur oleh Islam. Islam mengatur segala permasalahan mulai dari hal yang sangat sederhana, seperti masuk toilet, hingga masalah yang sangat kompleks, seperti pemerintahan, dengan penggalian hukum yang sangat dalam.

Islam adalah syariah yang lengkap dan tepat untuk mengatur urusan manusia seperti ibadah, ekonomi, sosial, politik, pemerintahan, pendidikan, dan yang lainnya. Namun semua hukum-hukum Islam akan sempurna dilaksanakan umat Islam manakala tersedia segala perangkat untuk melaksanakannya. Dalam hal ini, adanya Negara ( dawlah) tidak bisa ditawar lagi. Maka umat Islam diwajibkan untuk menegakkan-nya kembali, sebab Allah SWT memerintahkan kita untuk masuk Islam secara Kaffah (keseluruhan) dan tidak boleh melaksanakan Islam hanya sebagian-sebagian saja sebagaimana Allah SWT berfirman di dalam QS.Alabaqarah:208.

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kedalam Islam secara keseluruhan (kaffah) "

Ungkapan yang berkembang dalam masyarakat bahwa Islam bukanlah ideologi adalah akibat pemahaman umat yang keliru terhadap Islam, atau juga akibat kebodohan umat Islam sebab tidak melihat realitas sejarah. Akhirnya memandang Islam sama dengan agama-agama saat ini yang hanya mengatur urusan ritual dan spiritual dan bersifat individualistik semata. Padahal Islam mengatur segalanya.

Dari segi akidah, Islam sesungguhnya telah memerintahkan setiap individu untuk beribadah hanya kepada Allah semata. Sebagaimana firman Allah "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah" (adz-dzariyat 56).

Ibadah tersebut harus dilakukan dalam segala bentuknya, sebagaimana yang telah diperintahkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Tidak hanya di ekspresikan dalam bentuk ibadah ritual saja seperti shalat, puasa, zakat, dan haji (ibadah mahdhah), tetapi juga di luar itu dalam seluruh aspek kehidupan (ghairu mahdhah). Semua itu hanya bisa terealisasi jika syariah Islam diterapkan secara sempurna (kaffah) di tengah-tengah masyarakat oleh Institusi negara. Pasalnya, seluruh aktivitas seorang muslim akan bernilai ibadah jika berada dalam koridor syariah Islam, bukan yang lain.

Secara syariah, Islam mengatur setidaknya tiga hal; 1. Hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (al Khaliq) yakni hablum minallah, seperti sholat, puasa, zakat, haji dan jihad)
2. Hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri (hablum min an nafsih), seperti bagaimana cara berpakaia, makan, minum dan akhlaq. 3. Hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain dalam masyarakat (hablum min an-nasi) , seperti urusan niaga, pendidikan, sosial, politik, penerintahan dan hukum yang lainnya.

Jadi Islam tidak hanya diambil sekedar spirit kenabian, akhlaq dan simbol saja tetapi harus bisa diterapkan dalam kehidupan. Meneladani Rasulullah adalah suatu kewajiban bagi kita sebagai Muslim. Meneladani Rasul dalam seluruh perbuatannya hukumnya wajib dalam konteks kepemimpinan dalam menjalankan pemerintahan, kecuali hal yang dikhususkan untuk beliau. Allah SWT berfirman; "Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian" (al_ahzab 21).

Dan Rasulullah telah mewariskan kepada kita semua umat Islam tiga pusaka yaitu pertama, Al-Quran dan Assunnah sebagai sumber segala hukum, kedua para ulama sebagai penerus perjuangannya dalam menyampaikan risalah. Ketiga, para khalifah sebagai penerus kepemimpinan beliau. Terkait dengan peninggalan beliau yang ketiga, beliau bersabda; " Dahulu Bani Israel diurus dan dipelihara oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, nabi yang lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku dan akan ada para khalifah yang banyak" (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menyatakan bahwa kepemimpinan setelah Rasulullah saw akan dipegang oleh para khalifah. Hadis ini juga mengandung makna bahwa sistem pemerintahan setelah beliau adalah Khilafah bukan sistem yang lain. Sistem Khilafah itu dipraktikkan oleh Khalifaur Rasyidin dan para khalifah setelah beliau secara turun temurun. Alhasil, umat Islam dalam perjalanan sejarahnya tidak pernah menerapkan siatem pemerintahan yang lain. Kecuali setelah sistem Khilafah diruntuhkan dari permukaan bumi pada tahun 1924 M hingga sekarang.

Jelas sudah bahwa Islam mencakup akidah dan syariah, pemikiran dan metode (fikrah dan thoriqah) yang keduanya tidak boleh dipisahkan. Islam tidak hanya mengatur masalah spiritual tetapi juga politik. Politik dalam pandangan Islam adalah riayatus suunil ummah yaitu mengatur seluruh urusan umat. Karena itu pentingnya bagi kita semua memilih khalifah yang bisa menjadi perisai (junnah). Bukan penguasa yang sekedar mencitrakan dirinya layak sebagai khalifah tetapi pada faktanya fatal, maka dari itu pelajarilah Islam mulai akar hingga daunnya. Wallahu a'lam bish-showab.[]

Penulis adalah anggota Komunitas Muslimah Rindu Jannah, Jember

Tidak ada komentar