Dulu Sarjana Fisika ini Tak Faham Dunia Tulis, Kini Malah Ketagihan

Rina Tresna Sari, S.Pdi



ZONALABOUR.COM, JAKARTA - Rina Tresna Sari, S.Pdi, begitu panggilan ibu muda yang masih tampak cantik dan enerjik ini meskipun sudah dikaruniai 4 orang anak. Dengan balutan jilbab dan terusan yang serasi, jebolan S1 bidang fisika UPI Bandung ini semakin tampak modis dengan kacamata khasnya.

Saat wawancara melalui sambungan whatsapp, Jumat (5/4/2019) ibu muda yang juga seorang guru ini menuturkan seputar latar belakang dirinya yang tertantang untuk menulis sebuah opini di salah satu media. Tantangan yang dimaksud adalah karena dirinya berlatar belakang bukan sebagai penulis tetapi sebagai sarjana fisika yang secara akdemis tidak bersenthan dengan teori kepenulisan.

"Terus terang tertantang untuk bisa menulis opini, karena latar belakang pendidikan saya di fisika, yang gak bisa nulis, jadi guru punya tantangan baru pengen bisa nulis, pernah ikut lomba nulis fiksi alhamdulillah juara sampai tingkat provinsi, nah trus liat temen-temen yang rajin tulisannya tayang jadi termotivasi ingin bisa. Allhamdulillah jadi ketagihan." Ujar ibu muda 4 anak ini kepada radarindonesianews.com.

Menulis, kata Rina yang kelahiran Bandung ini, yang terpenting menjalankan kewajiban untuk memberi masukan kepada penguasa bila ada kebijakan yang merugikan rakyat.


Rina Tresna Sari, S.Pdi saat bersama siswa/i penghafal Al-Quran

Sebagai guru, kini ibu muda yang enejik ini memiliki aktivitas yang sangat mulia dengan merintis Sekolah Tahfizh Plus SD Khoiru Ummah, Rancaekek bersama kawan-kawannya sejak 2017 lalu padahal sebelumnya guru yang berciri khas kaca mata ini sebagai pengajar di Sekolah Dasar Negeri. Meskipun baru 3 tahun berjalan, Sekolah Tahfizh yang dirintisnya ini sudah membuka kelas pindahan untuk kelas 6. Untuk fokus merintis sekolah ini, Rina memutuskan keluar dari sekolah negeri tempatnya mengajar.

"He.. He.. Kan namanya berdikari mencoba jadi bos sendiri. Tadinya gak akan lepas, dua-duanya diusahakan tetap berjalan tapi apalah daya ternyata poligami sulit, terpaksa memilih salah satu. " Ujar Rina berkelakar saat ditanya soal tujuannya mendirikan sekolah tahfizh yang berlokasi di Rancaekek, Kabupaten Bandung tersebut.

Jiwa mandiri dan fighter yang dimiliki Rina ini tumbuh karena tempaan hidup yang dialaminya saat kecil yang penuh cobaan. Kalau orang sekarang menyebutnya tumbuh dalam keluarga yang broken home. Kondisi ini justeru membuat dan membentuk kepribadiannya sebagai wanita yang mandiri.

"Ya tumbuh dari keluarga yang tidak utuh, kurang kasih sayang, allhamdulillah saat itu pelarian saya justru senang di organisasi remaja mesjid sehingga gak salah jalan," Ujar Rina mengulas latar belakang kehidupannya di masa anak-anak.

Penulis, pengajar dan juga muslimah perintis ini jebolan S1 UPI, Bandung. Pada semester VI tahun 2002, mahasiswi cantik ini telah dikaruniai 4 orang anak; Zulfa Husna Maab, (16), Kayyisa Naswa Allya (13), Sayyid Sabiq Jailul Mustaqbal (8), dan Althamis Fatih Arrumi (3)

"Menjadi guru, mengajarkan ilmu kepada murid, bagi saya sebagai pahala investasi apalagi klu ilmu yang diajarkan menjadi ilmu yang bermanfaat, menulis itu juga menjadi pahala investasi bagi saya, berharap dengan menulis orang yang membaca tulisanku, bisa tercerahkan." Ujar Rina seputar profesinya sebagai guru dan penulis.

Soal warna, wanita muslimah yang tetap menampilkan jiwa semangatnya ini gandrung dengan hijau. Menurut ibu muda yang pernah menyabet prestasi juara 1 Leader Reading Challenge di Kabupaten Bandung ini, warna hijau itu sejuk dan menjadi warna favorit Rasulullah. Mengenai buku yang dibacanya, Rina tidak menarget berapa jumlah yang dibaca perhari.

Rina mengaku suka membaca buku buku sejarah atau sirah nabawiyyah dan buku terkait motivasi. Buku paling disuka adalah karya ust Taqiyudin Al Nabhani karena menurtnya ilmu dan apa yang ditulis benar-benar menuntun hidup kita di jalan yang benar agar terikat dengan hukum Allah.

Rina juga suka dengan penulis semisal Tere Liye yang piawai merangkai kata dengan quote'snya yang apik.

"Hidup adalah ladang untuk mencari bekal di akhirat, karenanya manfaatkan hidup untuk mencari bekal sebanyak-banyakya agar selamat di kehidupan yang kekal nanti."

Untuk muslimah di Indonesia, Rina berpesan agar wanita muslimah dan wanita indonesia menjadi ibu hebat, cerdas dan sholihah agar mampu menjadi pencetak anak-anak sholih/sholihah sebagai generasi pemimpin peradaban mulia.

Rina kini menggandeng dua profesi sekligus, sebagai guru dan penulis. Karya tulisnya dalam bentuk opini, selain di radarindonesianews.com, diterbitkan pula di Suara Sslam, Pena pejuang dab VOA Islam.[GF]

Tidak ada komentar