Jenderal (pur) Anton T Digdoyo: Saya Hanya Serdadu Tua Yang Risau Dengan NKRI Saat ini


Jenderal (pur) Anton T Digdoyo
ZONALABOUR.COM, JAKARTA - Hari ini Sabtu 13 April 2019 adalah hari terakhir masa kampanye pemilu 2019 yang sudah digelar selama 7 bulan. Terkait hal tersebut, radarindonesianews.com meminta Jenderal (pur) Anton T Digdoyo berkomentar, pesa dan kesan sebagai mantan petinggi Polri di masanya.
Melalui hubungan selular, Anton T Digdoyo mengatakan, dirinya hanyalah serdadu tua yang pernah banyak ditugaskan di berbagai medan operasi dan dirinya belum pernah merasakan kerisauan seperti sekarang ini.
"Saya hanya serdadu tua yang pernah mengmban tugas di banyak medan tapi saya belum pernah serisau seperti sekarang ini." Ujarnya membuka komentar, Sabtu (13/4/2019).
Anton melanjutkan seputar kerisauan yang dirasakannya. Pertama, saya risau dengan NKRI saat ini bukan hanya karena melihat kampanye pemilu yang tidak adil bahkan brutal. Kubu 01 diberi keleluasaan sedangkan kubu 02 banyak hambatan.

Selain itu Anton juga merisaukan kebijakan-kebijakan pemerintah yang menurutnya sangat pro aseng dan asing dengan budaya dan ideologi yang sangat berbeda seperti RRC sebagai negara Juga kebijakan2nya yg pro aseng dan asing yang budaya dan ideologinya sangat berbeda yaitu Cina sebagai negara komunis terbesar di dunia dengan NKRI negara Muslim terbesar di dunia.
"Lebih dari itu yang sangat merisaukan saya adalah stlh NKRI mesra dengan RRC muncul 5 indikasi embryo ancaman (police hazard) yang mengancam NKRI dan pancasila yaitu, ideologi komunis makin diberi ruang, paham sekuler liberal pluralisme berkembang, LGBT diberi pengakuan kebebasan tanpa batas ditoleran dan agama diabaikan." Ujar Anton melalui pesan Whatsapp.
Lima indikasi tersebut bisa diurai secara rinci untuk menjelaskan ke publik agar tidak berkembang jadi ancaman faktual. Point 1 diikuti 4 point berikutnya sebagai faktor korelatif kriminogen (fkk)
Kedua; di hari-hari terakhir masa kampanye makin terlihat gejala-gejala kecurangan dalam pemilu ini seperti money politic dan iming-iming hadiah makin tsecara terang terangan dari kubu 01 seperti tertangkapnya amplop-amplop untuk serangan fajar nilainya bermilyar milyar terungkapnya puluhan ribu surat suara yang sudah dicoblos utk capres 01 dan parpol pendukungnya.
Dalam kasus ini lanjut Anton, kubu 01 tidak mendapat tindakan hukum malah sebaliknya pihak 01 menuntut ketua Panwaslu yang ungkap kasus tersebut. Efeknya rakyat akhirnya percaya kasus 7 kontiner dengan 70 juta surat suara yang telah dicoblos gambar capres 01 yang kini tidak ada kelanjutannya.
Kemudian Bawaslu akan menghukum ustad Abu Somad yang wwcri capres 02 dengan alasan ASN ikut kampanye. Smentara ASN lain terang-terangan kampanye untuk capres 01 dibiarkan bahkan difasilitasi.
"Berbuat adillah hai penguasa dan tegakkan hukum seadil2nya jgn pilih kasih. Dan ikuti apa yang telah diletakkan para the founding fathers. NKRI adalah negara beragama yang menomor satukan nilai-nilai KeTuhanan Yang Maha Esa bukan negara sekuler. (Preambule & pasal 29 ayat 1 UUD45) termasuk melarang faham komunisme dan sepilisme di NKRI. " Demikian pesan mantan Jenderal ini kepada pemerintah.[red]

Tidak ada komentar