Didi Diah, S.Kom*: My Meal My Healthy


Didi Diah, S.Kom
ZONALABOUR.COM, JAKARTA  Pernahkah kita ingat masa kecil kita, jajanan apa yang nampak di keseharian waktu itu? Saya ingat ada timus, apem, combro, misro,  cenil, lopis, getuk. Kalau zaman ibu saya itu, ada gatot, tiwul, wajik dan geplak. Kalian pernah merasakannya?  Menyenangkan bukan, makanan yang ringan dan mengenyangkan. 

Masih ingat jugakah zaman kecil kita kapan bisa makan bakso? Mie instan? Kalau bakso, saya selalu ingat diajak oleh Ayahanda setiap bulannya di tanggal 1 bersama keluarga. 

Bagaimana dengan makan mie instan? Barang mahal juga waktu itu, sekalipun kami bisa makan mie instan, ibunda kami selalu menambahkan sayuran yang takarannya jauh lebih banyak dari mie instannya itu sendiri. 

Sekarang mari kita cermati makanan di abad milenial ini. Wow, saya tak ingin menyebutkannya, terlalu banyak, amat sangat banyak, belum lagi inovasi atau terobosan baru dari dunia kuliner ini. Parahnya lagi, kita asyik tergiring mengikuti trend tersebut. 

Saya kasih kata kunci dari TEPUNG, sila disebutkan makanan apa saja yang bisa diolah dari tepung?  Anda akan takjub dengan berbagai makanan berbahan dasar tepung tersebut.

Pertanyaannya sekarang, apakah tepung terigu atau gandum tertanam rapih di Republik tercinta ini?  Sayangnya jawabannya TIDAK. Lalu kenapa kita bisa lihat begitu bebasnya negeri ini mengkonsumsi makanan tersebut hingga mampu mengalahkan bahan baku lokal yang banyak ditanam di negeri ini, seperti ketela singkong, ubi jalar, ubi ungu, talas, kacang hijau, kacang merah , jagung dan sagu?

Selain Gandum, negeri ini juga hebat dalam konsumsi beras putih yang kita masak menjadi nasi putih. Akhirnya rakyat yang dijadikan korban dari food trap ini, generasi kita menjadi ketergantungan makan roti, mie dan kue kue.

Kementrian Pertanian Amerika menyatakan pola makan orang Indonesia sudah kebarat baratan. Generasi kita digiring untuk menyukai gandum, dan senang makan nasi putih dan lupa makan sagu, jagung, ubi rebus, singkong dan semacamnya.

Mengapa Tepung tidak baik jika dikonsumsi berlebih?

Jujur, saya satu-satunya anak dari Ibu saya yang tidak terlalu menyukai roti. Mungkin berbeda dengan ibu muda saat ini, di mana sarapan paginya disiapkan roti untuk buah hati. Dengan alasan praktis. Namun, kepraktisan yang dipilih bisa jadi kurang tepat. 

Protein dalam tepung ada tiga, yaitu gluten, wheat germ agglutinin dan amylase trypsin. Tiga protein ini sama sekali tidak bisa diproses oleh tubuh. 

Gluten, tidak dapat diserap dan dapat membuat peradangan usus besar. Gluten dalam  tepung juga dapat mengganggu konsentrasi anak. Gluten juga bisa membuat anak gelisah dan sulit mengendalikan gerakan. Jadi, hindari bekal sekolah berupa olahan tepung. (edukasi nutrisi anak, Bidan Leni 2018)


Makanan Terbaik Generasi Robbani

Mengapa generasi Robbani harus diutamakan makanannya? Karena mereka generasi cemerlang yang akan membangun negeri ini. Ada di antara mereka penghapal Quran. Mereka butuh nutrisi dan asupan gizi yang tidak sembarang. Mereka harus sehat. Caranya? Berikan makanan yang cerdas bagi mereka. Seluruh ibu di negeri ini harus merubah mind set memasak dan memberikan makanan bagi mereka.

Islam menyuruh kita untuk menjauhi barang yang diharamkan karena makanan yang dimakan akan mendarah daging dalam tubuh. Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab doa seseorang tidak di ijabah oleh Allah SWT.

Kita diperintah untuk memakan yang halal lagi bergizi. Kata Thayyib dalam ayat al-Qur’an adalah yang baik, dalam arti yang memiliki manfaat bagi tubuh. Tidak sekedar halal. Sebab, ternyata saat ini pun terdapat makanan halal akan tetapi ia tidak bagus atau tidak memberi manfaat untuk kesehatan. Makanan yang bermutu di sini dianjurkan agar seseorang itu menjadi kuat tidak lemah sehingga lebih bersemangat dalam beribadah.


Inilah makanan yang dianjurkan bagi para penghapal quran dan hadits.. 

1. Madu
Imam az-Zuhri (w. 124 H) berkata:


عَلَيْكَ بِالْعَسَلِ فَإِنَّهُ جَيِّدٌ لِلْحِفْظِ

“Minumlah madu karena ia baik untuk menghafal.”

Kemudian makanlah segala macam buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkannya. (QS. An Nahl : 69)

2. Kurma

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ تَصَبَّحَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سَمٌّ وَلاَ سِحْرٌ»

“Barangsiapa yang memasuki pagi memakan tujuh kurma ajwah, maka pada hari itu racun dan sihir tidak akan membahayakannya.”

 3. Susu

Minum susu yang baik adalah lebih kurang segelas pada waktu pagi dan malam. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum susu kambing sebagaimana yang terdapat pada hadits-hadits yang shahih. Susu disini adalah susu murni, yang tidak banyak mengandung gula. 

Cukuplah menjadi kemuliaan susu saat Allah menjadikannya sebagai salah satu dari empat minuman utama penduduk surga.

4. Habatussauda

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«فِى الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَّ السَّامَ»

“Dalam habbatus sauda` ada penyembuh untuk segala penyakit kecuali kematian.”

Dan, terakhir berikanlah anak-anak penghapal quran buah buahan dan  air putih yang cukup, karena pada saat anak menjalani proses menghapal, tubuhnya bekerja dengan maksimal, jangan sampai anak mengalami dehidrasi karena akan menyebabkan sakit kepala dan panas dalam.


Generasi Terbaik 

Sesungguhnya kita sedang menyiapkan aset cemerlang yang luar biasa, yaitu anak-anak yang sholeh dan sholehah dimana peradaban Islam mulia akan berada di zaman mereka. Kita mempersiapkan generasi-generasi terbaik, baik secara fisik maupun keilmuan. 

Semoga anak-anak kita menjadi generasi penerus yang selalu terikat kepada Allah SWT dan Rasul SAW. Mampu menjalankan SyariatNya dalam seluruh aspek kehidupan dan selalu menjadikan Alquran dan Sunnah sebagai sumber menyelesaikan segala permasalahan. 


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533). Wallahu'alam Bishowwab.[]

*Praktisi pendidikan, Kepala Sekolah STP-SD- Khairu Ummah, Ciledug, Tangerang

Tidak ada komentar