Hawilawati*: eSport Masuk Kurikulum Pendidikan, Solusi Atau Masalah?


Hawilawati
 
ZONALABOUR.COM, JAKARTA - Sebagaimana dilansir www.indosport.com bahwa Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi mengatakan eSports atau ‎dunia olahraga elektronik bakal diusulkan masuk dalam kurikulum formal di sekolah. Hal ini dikarenakan melihat perkembangan dunia olahraga elektronik atau eSports yang semakin marak di Indonesia. "Ke depannya, di level sekolah menengah harus membuka diri bagi hadirnya pertandingan e-Sport," ucap Imam di Sekretariat Kabinet, Jakarta, Senin (28/01/19).

Selain itu, Imam juga mengklaim bahwa telah menyiapkan anggaran sebesar 50 miliar rupiah untuk mendanai langkah tersebut.

Diapun mengatakan ini akan memberi harapan masa depan, baik dalam konteks industri olahraga, maupun prestasi olahraga," (Tirto.id 29/01/2019)

Wacana itu tentu menuai kontroversi dikalangan kaum pendidik, begitupun kritikan dinyatakan oleh pengamat pendidikan dari Universitas Multimedia Nusantara, Doni Koesoema. "Gim online sebagus apa pun merupakan permainan yang menjauhkan anak-anak dari dunia nyata dan interaksi sosial," ujar Doni. (Tirto.id 29/01/2019)

Saat ini, dunia telah memasuki era revolusi industri 4.0, yang mau tidak mau memang akan kita hadapi. revolusi industri 4.0 merupakan integrasi antara dunia internet atau online dengan dunia usaha atau produksi di sebuah industri. Artinya, semua proses produksi ditopang dengan internet.

Tak dipungkiri salah satu pemasukan besar ekonomi yang mengandalkan internet adalah industri game online. Data terbaru, pada 2017, menurut lembaga riset pemasaran asal Amsterdam, Newzoo, ada 43,7 juta gamer (56% di antaranya laki-laki) di negeri ini, yang membelanjakan total US$ 880 juta. Jumlah pemain game Indonesia terbanyak di Asia Tenggara, yang bermain game di telepon pintar, personal computer dan laptop, serta konsul.(thevonversation.com 04/07/2019).

Tentu pemasukan besar bagi kaum kapitalis tersebut semakin berambisi menciptakan varian game baru agar terus meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa memikirkan betapa juta jiwa yang terpapar akibat kecanduan game online.

Bahaya Game Online

Menurut ICD-11, kecanduan game adalah pola perilaku bermain game (online maupun offline, game digital maupun video game) dengan beberapa pertanda berikut:

1.Tidak dapat mengendalikan keinginan bermain game.
2.Lebih memprioritaskan bermain game dibandingkan minat terhadap kegiatan lainnya.
3.Seseorang terus bermain game meski ada konsekuensi negatif yang jelas terlihat.

Melihat mudhorot penggunaan game online sangat mengerikan, jika tak ada kontrol yang kuat dalam menggunakannya, maka tak hanya menyebabkan kecanduan tapi juga kematian.

Kasus Kecanduan Game Online

Ini adalah kasus dari sekian banyak kasus yang terjadi akibat kecanduan game online.
Sepuluh anak di Banyumas didiagnosa mengalami gangguan mental akibat kecanduan bermain game online sepanjang tahun 2018. Mereka mendapat terapi di RSUD Banyumas. 7 dari 10 anak itu merupakan siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dokter Spesialis Jiwa RSUD Banyumas, Hilma Paramita mengatakan rata-rata pasien sudah tak bisa mengendalikan diri bermain game online. Akibatnya, mereka sudah tak lagi bisa beraktivitas secara normal (www.merdeka.com 11/10/2018).

Bahkan kecanduan game online memicu tindakan destruktif yang dapat merugikan orang lain. Contohnya, saat uang habis untuk menyewa komputer, mereka mencuri. Keinginan untuk berinteraksi dengan teman menjadi hilang. kepekaan atau respon dalam dunia nyata lambat (individualis).

Apakah kelak dengan masuknya esport dalam kurikulum pendidikan, pemerintah bisa menjamin generasi tidak kecanduan gadget, sementara segala kemudahan bermain game online akan difasilitasi di sekolah ?

Apakah e-sport juga dapat menyehatkan tubuh sebagaimana esensi dari olahraga itu sendiri? Seberapa besar kontribusi e-sport untuk mencapai tujuan pendidikan dalam memajukan bangsa?.Dan apakah akan menjadi solusi terpuruknya pendidikan di Indonesia atau justru akan menimbulkan masalah baru?

Game menurut Islam
Menurut pandangan Islam, game adalah salah satu hiburan yang mubah saja. Sesuai dengan kaidah fikih:

الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ اْلإِبَاحَةُ إِلَّا مَا دَلَّ الدَّلِيْلُ عَلَي تَحْرِيْمِهِ

Artinya: “Hukum asal segala sesuatu adalah mubah, kecuali setelah ada dalil yang mengharamkannya”.

Namun, jika mengandung unsur-unsur yang diharamkan seperti perjudian, kekerasan, brutalitas, seksualitas atau permainan yang membawa agenda terselubung (hidden agenda) dalam merusak moral generasi muda, hingga dapat melalaikan kewajiban dan kegiatan yang lebih utama maka ini tidak diperbolehkan.


Tujuan Pendidikan Nasional

Pendidikan dalam sebuah Negera adalah bagian yang paling penting. Berbicara pendidikan sama halnya berbicara masa depan bangsa. Dari pendidikan inilah lahir pemimpin masa depan yang akan membangun peradaban bangsanya. Generasi berkualitas tidak lain dihasilkan dari pendidikan dengan kurikulum yang terbaik.

Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

Berdasarkan tujuan pendidikan diatas jelas bahwa segala ilmu yang terapkan dalam dunia pendidikan level menengah, tak cukup untuk meningkatkan kecerdasan dan pengetahuan saja namun generasi juga memiliki akhlak mulia (karakter unggul) dan jiwa mandiri layaknya manusia dewasa. Mandiri bukan hanya sekedar dapat memenuhi kebutuhan materi saja tapi mampu menyelesaikan segala masalah yang terjadi pada dirinya, keluarganya dan masyarakatnya.

Kurikulum Pendidikan Dalam Islam

Dalam Islam tujuan pendidikan tak sekedar berorientasi duniawi tapi juga ukhrowi, alhasil pendidikan dalam Islam tidak lain untuk melahirkan generasi berkualitas yang cerdas akal, sholih jiwa dan sehat fisiknya.

Artinya ia mampu mengembangkan potensi sesuai fitrah dan menyikapi diri sebagai manusia yang beriman kepada Allah SWT, mampu berfikir dan menilai sesuatu dari sudut pandang aqidah yang shohih (aqidah Islam), ia mampu membedakan yang haq dan bathil, yang halal dan haram, yang maslahat dan mafsadat dan ia mampu mempertanggung jawabkan segala perbuatannya di yaumil akhir nanti.

Untuk menghasilkan generasi yang berkualitas tersebut, maka negara berperan besar dalam menyiapkan kurikulum yang terbaik.

Bagaimana muatan kurikulum dalam islam ?

1. Kurikulum pendidikan didesain sesuai dengan aqidah Islam, tujuannya menguatkan keimanan dan melahirkan manusia yang bertaqwa.

2. Isi atau konten kurikulum adalah seperangkat pelajaran atau ilmu bermanfaat yang akan menghasilkan ihsanul amal (amal sholih), bukan sekedar ilmu hiburan saja. Baik ilmu dasar, ilmu inti maupun ilmu penunjang harus sesuai dengan aqidah Islam.

Ilmu ini disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dan level berfikir :

~ Level SD (pra baligh) : ilmu yang disusun dan diberikan siswa, mampu membentuk pola pikir (konsep berfikir), dan ditanamkan berfikir benar sesuai aqidah Islam.

~ Level SMP (baligh) : ilmu yang disusun dan diberikan siswa mampu membentuk berfikir solutif, mandiri, penuh tanggungjawab bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya.

~ Level SMA : Ilmu yang disusun dan diberikan siswa mampu membentuk berfikir cepat dan bisa memberikan solusi masalah negaranya, bahkan ia mampu meciptakan sebuah karya untuk kemaslahatan umat.

3. Metode dan strategi mengajar dalam pendidikan Islam harus mampu menunjang kegiatan siswa agar bisa memenuhi standar yang dipatok. Dengan menggunakan media pembelajaran yang cocok dan menarik, tidak bertentangan dengan aqidah Islam , tidak menggunakan sarana yang membahayakan , merusak atau menimbulkan mudhorot bagi otak dan fisik.

4.Tahapan akhir yang terpenting dalam komponen kurikulum adalah evaluasi. Mengevaluasi apakah ilmu yang diberikan kepada siswa relevan dengan tujuan pendidikan yaitu melahirkan generasi yang cerdas, sholih jiwanya dan sehat fisiknya atau generasi yang bersyakshiyyah Islamiyyah (berfikir dan bersikap secara islami)

Jadi pendidikan berkualitas mampu membawa perubahan level berfikir generasi secara bertahap dan jelas yaitu mulai berfikir biasa, berfikir mendalam (al-fikru al-‘amiq) dan berpikir
cemerlang (al-fikru al-mustanir).

Pendidikan hadir bukan untuk menimbulkan masalah baru tapi menyelesaikan segala masalah, sehingga negara akan sangat selektif menyusun kurikulum, tak segala ilmu yang bersebaran di dunia akan di adobsinya, para khubaro (pakar) pendidikan akan memfilter bahan ajar yang mampu mencerdaskan dan mensholihkan jiwa.

Islampun mendorong generasinya sehat dan kuat fisik secara nyata, bukan sehat semu. Sangat rendah sekali jika muatan kurikulum pendidikan hanya sekedar berorientasi pada hiburan dan materi (duniawi saja) atau hanya menuruti keinginan kaum kapital menyeret pendidikan dalam bisnis mereka. Dan keliru besar jika keberhasilan pendidikan diukur dari generasi yang sukses menghasilkan materi sebanyak-banyaknya sebagaimana pandangan hidup Sekulerisme kapitalisme, sementara fisiknya lemah dan jiwanya rapuh dari nilai agama.

Jika menempatkan teknologi dan internet dalam dunia pendidikan tidak bijak, maka lambat laun negeri ini akan sulit menemukan generasi yang peduli terhadap dunia nyata karena mereka lebih menikmati hidup di dunia mayanya.

Walau bagaimanapun generasi butuh olahraga sungguhan yang optimal hingga membuat fisiknya kuat. Teknologi digunakan bijak dan pada porsinya sebagai penunjang belajar. Menguasai berbagai Ilmu agama yang shohih agar kuat aqidah dan imannya, sehingga bisa meraih predikat generasi terbaik (Khoiru Ummah) dambaan umat. Wallahu'alam Bishowwab.[]

*Praktisi Pendidikan dan Muslimah Peduli Generasi

Tidak ada komentar