Hawilawati, S.Pd*: Parenting In Cookies


Hawilawati, S.Pd
ZONALABOUR.COM, JAKARTA - Memiliki buah hati dengn beragam gaya belajar membuat sang ibu harus pintar mencari permainan sebagai stimulus yang pas bagi mereka.

Tentu setiap ibu pernah merasakan dan menghadapi pola tingkah anaknya yang suka corat coret dinding, lompat sana lompat sini, teriak- teriak tidak jelas, berantem sesama saudara atau cepat merajuk jika keinginannya tidak segera dituruti, tapi ada juga yang bersikap anteng dan fokus  bermain balok-balok atau lego-lego kecil.

Yups, itu yang pernah saya alami sebagai ibu yang memiliki 3 buah hati. Ada yang kinestetik, bolang sekali, suka main di luar rumah, entah bersepeda, memancing ikan sampai menyebur ke empang.

Lain lagi putri sholihah cenderung visual,  ia suka sekali membuat prakarya dari kertas, entah membuat aneka amplop, doodle, juga berkarya membuat slime, dough atau hanya sekedar merapikan buku-bukunya sambil menulis curhat apa yang ia rasakan, tapi cepat sekali berteriak jika ia sudah mulai terganggu oleh kakak adiknya, ia  juga suka merajuk jika keinginannya tidak segera dituruti.

Nah yang bungsu dengan usianya yang sangat kecil lebih cenderung auditori, ia sudah suka main balok hingga disusun membentuk sebuah bangunan atau transportasi entah menyerupai menara, benteng, kapal laut, mobil dan sekarang beralih ke Lego berukuran sangat kecil yang dirakit berbagai menjadi transportasi unik. Ia juga suka sekali mendengarkan sebuah cerita dan bertanya, "mengapa begini mengapa begitu".  Jika bermain, saya tak lupa selalu mengingatkan, "dik jangan lupa balok-baloknya dirapikan ke dalam boxnya ya". Saat selesai bermain ia segera merapikan balok balok yang berserakan dan alhamdulilah sudah mulai bisa merapikan mainannya sendiri sejak berusia 2 tahun.

Kebayangkan jika memiliki banyak anak dan semuanya beraksi tanpa arah, pekerjaan ibu akan diacak-acak hingga membuat diri menjadi emosi. Nah untuk menghindari itu,  ikut sertakan mereka dalam aktivitas bunda dan akan ada waktunya jika ia sudah capek, ia akan berhenti nimbrung atau mengacak-acak pekerjaan bunda.

Misal, tatkala bunda produksi cookies, siapa yang pertama kali yang akan nimbrung ngerecokin? ya anak-anak bukan? Bahkan sampai membuat bunda menjadi jengkel karena semua mau pegang adonan.

Nah sekarang bunda tidak perlu emosi, "jagalah hati jangan kau nodai" penggalan nasyid AA Gym yang selalu mengingatkan bunda jangan emosi selalu jaga hati di bulan Ramadhan ya. 

Inilah saat yang tepat menjelang lebaran ini, ajak ananda untuk asyik berkreasi membuat cookies untuk memenuhi toples camilan lebaran. Tidak lain untuk melatih mereka bersikap  tertib, jadikan mereka partner dalam  "Team Work" yang keren dan mengasyikan, jangan jadikan mereka musuh dalam segala aktivitas  kita. Libatkan mereka dan berilah tugas sesuai kecakapan mereka.

Untuk Ananda pertama, beri tugas mengocok adonan, percayakan ia pegang mixer karena bagi anak kinestetik ini sebuah tantangan, ia sangat tertarik sesuatu yang bergerak. Selanjutnya berilah ia tugas untuk mengambil segala keperluan membuat cookies seperti mengambil cetakan, mengoles margarin ke loyang, ambil lap, atau buang sampah ke tong sampah di depan rumah. Biasanya anak kinestetik  ini akan bergerak cekatan kesana kemari.

Sementara untuk Ananda  dengan gaya belajar visual, percayakan ia menulis resep, bunda diktekan dan suruh ia menulis kembali resep dengan rapi dan step by steppembuatan cookies dan minta ia bacakan dengan nada keras (Hmm intinya supaya ia tidak teriak-teriak tidak jelas) dan tugas selanjutnya, biarlah  ia  membentuk adonan misal bentuk bulat untuk nastar.

Ananda ketiga si auditori yang masih terlalu kecil, percayakan ia menyusun nastar yang sudah matang ke dalam toples, agar ananda menikmati akan tugasnya, instruksikan sambil dihitung berapa nastar yang masuk ke dalam toples, ya walaupun berhitung masih tak berurutan, dan siap-siap biasanya anak ini akan berbicara dan disisipi dengan beragam pertanyaan, "aku suka nastar ini, aku boleh coba kah Bun?" dan "Mengapa kue ini harus dibakar ?". Mungkin ia utarakan juga rentetan pertanyaan lainnya.

Sampaikan kepada mereka agar  semua melakukakan tugas dengan tuntas dan fokus.
Seketika bunda  akan sedikit merasakan keheningan dalam rumah karena semua menjalankan tugasnya masing-masing tanpa ada yang menggangu satu dengan yang lainnya.

Efeknya tentu sangat besar, di antaranya: 

1.Produksi cookies bunda bisa cepat terselesaikan, karena terbantukan oleh mini team work. 

2.Anak-anakpun belajar konsentrasi dan menghargai sebuah pekerjaan.

3.Anak anak sangat senang karena telah dilibatkan menjadi team work yang keren dan mengasyikan tanpa banyak larangan. 

Dengan cara tersebut, akhirnya mereka tahu bahwa membuat cookies itu juga cukup melelahkan sehingga jika esok bunda ingin produksi cookies buat persiapan lebaran lagi, ananda akan menghargai aktivitas bunda tidak mengacak-acak kembali.

Keesokan harinya, "Ayo anak-anak siapa yang mau bantu bunda lagi  buat cookies?"  Ajak bunda kepada mereka. Semua geleng kepala karena sudah tahu dan merasakan bahwa mambuat cookies itu capek.

"Hmm, bunda saja yang buat ya, karena buat kue ternyata  capek Bun, aku mau bersepeda saja ya Bun" jawab si kinestetik,

"Kalau aku mau buat amplop lebaran saja ya Bun" , jawab si visual,  

"Aku mau main balok saja sambil lihat bunda buat kue"  sambung si auditori tak mau kalah. 

Akhirnya bunda dengan leluasa membuat cookies tanpa direcoki oleh pasukan krucil bahkan sesekali mereka akan intip dapur dan mengatakan "Hemm....cookies buatan bunda harum dan yang pasti enak".

Ok moms, selamat berkreasi membuat cookies untuk persiapan lebaran bersama buah hati ya.[]

*Praktisi pendidikan, STP-SD Khairu Ummah, Ciledug, Tangerang

Tidak ada komentar