Hawilawati, S.Pd: Waktu Adalah Nafas Yang Begitu Berharga

Hawilawati, S.Pd
ZONALABOUR.COM, JAKARTA - Apa yang dipikirkan diri ketika melihat waktu, apakah hanya sekedar perputaran detik demi detik, menit demi menit, ataupun jam demi jam. Hmm, waktu tak hanya sekedar perputaran rutin jarum jam saja.

Bagi orang beriman waktu bagaikan nafas yang begitu berharga, yang tak boleh disia-siakan, bahkan menyiakan waktu lebih berbahaya dari kematiannya.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها

“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya”. [Al-Fawaid hal 44]

Waktu adalah nafas diri. Sebagaimana pepatah mengatakan bahwa :

"Waktu adalah nafas yang tidak akan kembali lagi".

Waktu akan berhenti disaat yang tak disangka-sangka, sebagai arti nafas diri telah terhenti.

Owh, begitu mahal sebuah nafas, berapa liter oksigen yang diri butuhkan tiap harinya. Sangat sangat mahal bahkan orang terkaya di dunia pun tak akan mampu membayarnya. Sementara umat manusia diberikan fasilitas nafas tak berbayar, maha besar dan pengasih Allah kepada setiap hambanya. Jika itu semua berbayar maka tentu manusia meninggalkan dunianya dalam keadaan membawa utang yang tak sanggup membayarnya.

Tanpa nafas yang lancar sakitlah diri ini. Tanpa nafas berakhirlah hidup ini. Nafas sehat tentu akan membuat diri ini sehat. Hidup sehat tak hanya sekedar fisik ini bugar kuat banyak melakukan aktivitas, tapi hidup sehat juga adalah tatkala pikiran ini tidak menjadi pesakitan, ia jernih menghadapi dan memecahkan segala masalahnya dengan pemikiran cerdas nan cemerlang yang datangnya dari sang Kholiq yaitu pemikiran islam bukan sekulerisme apalagi atheisme tak bertuhan.

Waktu bagaikan nafas, tatkala mengandung banyak toksin dari apa yang dihirup maka bersiaplah menjadi pemicu berbagai penyakit akut bahkan kronis yang menggerogoti fisik ini, begitupun waktu jika hari-hari ini banyak dikontaminasi dengan hal-hal penuh senda gurau kesia-siaan bahkan aktivitas jauh dari nilai-nilai kebaikan, jauh dari amar ma'ruf nahi munkar, sungguh waktu ini bersiap perlahan akan membunuh diri sendiri, tak menyisakan kebaikan.

Ingat waktu ingat apa yang akan diperbuat, isilah relung nafas ini dengan penuh kebaikan yang membuat diri ini tak menyesal tatkala berlalunya waktu, isilah relung nafas ini dengan kebaikan yang membuat diri semangat hidup disaat terjadi, dan rencanakan relung nafas untuk hari esok dengan niat penuh kebaikan hingga diri siap bernafas tuk hidup mendatang.

Dibalik nafas (waktu) ada sang pemilik waktu, yang tak akan pernah lalai memutar waktu kehidupan ini, dan tak pernah absen menilai apa yang manusia telah lakukan, sedang dilakukan dan apa yang akan direncanakan tuk mengisi waktu mendatang.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
 
Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara :

(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
(5) Hidupmu sebelum datang matimu.”

Semoga kita bisa mengisi waktu yang berharga ini dengan aktivitas penuh kebajikan hingga membuat diri berarti tidak merugi dikemudian hari.[]

*Praktisi pendidikn, anggota Revowriter Tangerang

Tidak ada komentar