Lulu Nugroho*: Apa Kabar Pendidikan Indonesia


Lulu Nugroho
 
ZONALABOUR.COM, JAKARTA - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mendesak pemerintah untuk segera meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga honorer. Ketua Departemen Komunikasi dan Media KSPI, Kahar S. Cahyono menjelaskan, desakan untuk menyejahterakan para guru dan tenaga honorer sejalan dengan salah satu isu yang diangkat KSPI dalam peringatan May Day kemarin.

Hal ini dilontarkan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei 2019. "Dalam kaitannya dengan Hardiknas, KSPI mendesak kepada pemerintah untuk memperhatikan kesejahteraan para pekerja di sektor pendidikan, terutama guru dan tenaga honorer," kata Kahar sebagaimana keterangan pers, Kamis (2/5).

Ditekankannya, tuntutan itu dilayangkan karena KSPI berpendapat, tidak mungkin para guru bisa maksimal dalam mencerdaskan kehidupan bangsa apabila perutnya dalam kondisi lapar. Sebab pada kenyataannya, saat ini masih ada guru yang mendapatkan gaji sebesar Rp 300 ribu per bulan.

"Para guru adalah pekerja. Mereka juga harus diperhatikan kesejahteraannya. Termasuk para pekerja kependidikan, misalnya penjaga sekolah dan bagian tata usaha. Karena itu, dalam momentun peringatan Hari Pendidikan ini, jangan mengabaikan dan melupakan peran para guru dan tenaga honorer," tutup Kahar. (Radarindonesia, 2/5/2019)

Indonesia hanya salah satunya. Sebab pada faktanya dunia Islam saat ini tengah dilanda ‘Krisis Pendidikan’ dalam kadar yang signifikan. Ditandai oleh perhatian penguasa yang minimalis terhadap pendidikan. Dari mulai gaji guru honorer yang memprihatinkan, penyediaan infrastruktur dan fasilitas pendidikan berkualitas lainnya.

Kurikulum yang mengarah pada sekularisme, metode pengajaran yang tidak efektif, serta rendahnya akses terhadap tsaqofah Islam. Lebih jauh lagi, orang tua dan siswa menanggung beban keuangan yang besar untuk mendapatkan taraf pendidikan yang baik. Semua ini telah menghancurkan aspirasi pendidikan bagi generasi masa depan umat.

Akhirnya menyebabkan umat jalan di tempat. Penanaman akidah yang minimalis, menghalangi kemajuan dan pembangunan di dunia Islam. Krisis pendidikan ini disebabkan oleh penanaman secara paksa konsep-konsep pendidikan berbasis sekularisme di negeri-negeri Muslim selama 9 dekade terakhir sejak kehancuran Khilafah.

Konsep pendidikan seperti ini tidak pernah ditujukan untuk memenuhi kebutuhan umat, hingga tidak mampu mencerdaskan. Sebaliknya, konsep tersebut hanya sarana penjajah untuk menanamkan dan menyebarluaskan sekularisme pada generasi muslim. Pada saat yang sama, sistem pendidikan yang ada menjajah pemikiran pemuda muslim dan menjadikan mereka menghamba pada sistem buatan Barat untuk mengokohkan tujuan-tujuan kolonial.

Kepemimpinan sekuler di dunia Islam yang didukung Barat terus menerapkan sistem pendidikan penjajah. Dalam agenda yang semakin diintensifkan selama beberapa tahun terakhir di bawah kedok palsu pembangunan pendidikan. Kurikulum tidak memiliki visi independen yang tulus untuk melayani kebutuhan pendidikan umat dan berkontribusi untuk kemajuan negeri.

Maka outputnya pun bisa terlihat. Generasi yang ada saat ini gagap terhadap kondisi umat. Tidak mampu mengemban amanah, bahwa di pundak mereka tanggung jawab peradaban diletakkan. Perasaan dan pemikiran mereka tidak bisa lebur dengan umat. Hingga akhirnya mereka terpisah, tidak bisa merasakan persoalan umat. Bahkan mereka menambah beban umat dengan aktivitas yang jauh dari Islam.

Sementara sebagian generasi muslim lain harus bahu membahu membangun kepribadian Islam dalam pendidikan di tengah kepungan nilai-nilai dan hukum sekuler. Sungguh berat. Tidak mudah mencetak generasi di dalam habitat peradaban sekuler. Karena sesungguhnya, kepribadian Islam yang kuat tidak dapat dibangun secara massif pada generasi muda kita tanpa adanya penerapan Islam.

Inilah keunggulan Islam. Saat diterapkan di Negeri Khilafah, ia memberikan kedudukan yang sangat penting dan dukungan pada aktivitas pendidikan. Juga menjadikannya pusat pembelajaran bagi dunia. Keunggulan akademik lembaga pendidikannya menarik minat para akademisi dan pemikir terbaik dari seluruh dunia sekaligus telah memberikan pendidikan kelas satu (first class education) kepada ribuan pelajar, laki-laki dan perempuan.

Sistem ini melahirkan ulama dan ilmuwan dalam jumlah yang melimpah serta mendorong lahirnya era inovasi dan penemuan besar. Menciptakan peradaban mulia yang menjadi adidaya dunia. Tugas kita untuk menghidupkan kembali masa keemasan dalam pendidikan dengan mengembalikan Khilafah, sebagai mercusuar pendidikan yang terang hingga ke negeri sekitarnya.

Visi kebijakan pendidikan Khilafah membangun sistem pendidikan kelas satu yang akan melahirkan generasi dengan identitas Islam yang jelas. Ia juga memenuhi kesempatan memperoleh pendidikan tinggi secara mudah, dan menciptakan peradaban megah yang memimpin dunia dalam inovasi yang mutakhir.

Oleh sebab itu jelas, persoalan pendidikan tidak semata-mata disebabkan karena rendahnya gaji guru. Memperbaiki satu pintu itu saja, tidak akan mengurai persoalan pendidikan di negeri ini. Masih banyak kasus bermunculan beberapa waktu terakhir, menimpa anak didik dan institusi pendidikan, hingga praktisi.

Ada persoalan kriminal, kenakalan remaja, putus sekolah, narkoba, masalah akhlak, kekerasan terhadap guru, dan masih banyak yang lainnya. Hal ini tidak hanya diakibatkan oleh rendahnya kesejahteraan guru. Akan tetapi seluruh masalah ini terjadi secara sistemik. Maka solusinya pun harus melalui sistem.

Sistem pengurusan umat adalah hal yang lebih mendasar. Penerapan sistem yang salah mengakibatkan umat sulit bangkit. Melepaskan umat dari carut marut pendidikan di tanah air, adalah dengan mengganti sekularisme dengan Islam. Sebab terbukti selama 13 abad sepanjang 2/3 dunia, Islam menghasilkan generasi emas peradaban.

Maka sungguh sangat disayangkan jika umat tidak kembali kepada Islam. Sebuah sistem sahih yang sejatinya telah kita bawa sejak lahir. Sejarah emas di era Khilafah mencatat, pendidikan Islam melahirkan generasi terbaik yang tidak hanya ahli di bidang sains dan teknologi, juga memiliki kepribadian Islam dan mampu menghantarkan Islam sebagai peradaban nomor satu dunia. Itulah abad keemasan di masa Khilafah.

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (TQS Ali Imran: 110).

*Muslimah Revowriter Cirebon

Tidak ada komentar